Pfister dari Commerzbank menilai bahwa penguatan euro memberi dorongan bagi EURUSD, namun dampak kebijakan baru akan muncul jika laju penguatan semakin besar. Ia menekankan bahwa reaksi ECB kemungkinan meningkat hanya bila nilai tukar bergerak jauh melewati level yang telah dipantau. Analisis ini menekankan bahwa sinyal kebijakan tetap berhati-hati sampai tekanan pada euro menjadi lebih jelas.
Beberapa pejabat ECB telah menegaskan bahwa fokus berlebihan pada strength euro kurang membantu pelaksanaan kebijakan. Mereka menilai volatilitas mata uang bisa mengaburkan dinamika inflasi dan pertumbuhan. Oleh karena itu, fungsi reaksi ECB cenderung menahan diri kecuali apresiasi euro menjadi terlalu menyolok dan tidak lagi dapat diabaikan.
Setelah lonjakan EURUSD di atas 1.20 dua pekan lalu, pasar sempat panik. Peristiwa itu muncul saat paket fiskal Jerman disorot dan dolar AS melemah. Para analis menilai langkah ECB akan tetap berhati-hati karena sebagian besar apresiasi terjadi di Q1 2025, sehingga respons kebijakan masih bisa fokus pada faktor fundamental lain.
Pembicaraan tentang euro tetap menjadi topik hangat di kalangan klien dan analis. Banyak pihak bertanya seberapa tinggi EURUSD bisa naik tanpa mendorong tindakan kebijakan lebih lanjut. Para profesional menilai keputusan verbal maupun potensi perubahan suku bunga akan bergantung pada keseimbangan antara nilai tukar dan tekanan inflasi.
Macron membuka perdebatan mengenai dampak penguatan euro terhadap daya saing zona euro. Ia memperhatikan bahwa EURUSD yang berada di sekitar 1.19 meningkatkan kekhawatiran terhadap ekspor. Para pejabat menekankan bahwa penilaian kekuatan euro perlu proporsional agar kebijakan tidak terlalu reaktif.
Seiring dengan pernyataan publik, pasar diharapkan menilai konteks secara menyeluruh. Mengingat dinamika ini, laporan dan komentar pejabat ECB menjadi panduan utama untuk mengerti arah kebijakan. Pelaku pasar dianjurkan memperhatikan data inflasi, pertumbuhan, dan pidato pejabat daripada hanya menatap level tukar semata.
Para pelaku pasar perlu memahami bagaimana penguatan euro bisa mengubah daya saing ekspor dan arus modal. Nilai tukar yang lebih kuat dapat memperlambat pertumbuhan ekspor dan mengubah prospek pendapatan perusahaan internasional. Namun, efeknya juga bisa bervariasi antar sektor, tergantung pada kemampuan perusahaan untuk menyesuaikan harga dan biaya produksi.
Analisis menyiratkan bahwa jika euro tetap menguat secara bertahap, ECB mungkin menahan perubahan kebijakan terlalu cepat. Narasi kebijakan bisa berkembang secara bertahap sambil tetap mempertahankan fokus pada target inflasi. Investor perlu memperhatikan bagaimana data inflasi dan pertumbuhan valuta mempengaruhi opini kebijakan jangka menengah.
Takeaways untuk pembaca adalah memantau pernyataan pejabat ECB dan level tukar yang relevan. Meskipun potensi peluang ada, risiko tetap menanti jika volatilitas kembali meningkat. Rekomendasi umum menimbang risiko-reward secara hati-hati, dengan target risiko minimal 1:1.5 dan menghindari ekspektasi yang terlalu optimis.