Inflasi China naik 0,2% secara tahunan pada Januari, melambat dibanding ekspektasi pasar. Meskipun demikian, data itu menandakan stabilisasi tekanan disinflasi, yang mendukung mata uang Asia-linked seperti AUD. Perkembangan ini mendorong sentimen positif di pasar FX, terutama pasangan AUD/USD.
Di balik faktor eksternal, AUD mendapat dukungan dari tata kelola ekonomi regional yang lebih optimis. Pasar melihat bahwa China, sebagai mitra dagang utama Australia, tidak lagi menunjukkan tekanan harga yang memburuk secara signifikan. Hal ini membantu AUD lebih tahan terhadap volatilitas global.
Data kredit perumahan domestik juga menunjukkan momentum permintaan yang tetap kuat. Lonjakan pinjaman rumah untuk pembeli pertama dan peningkatan ukuran pinjaman rata-rata memberi sinyal bahwa pasar perumahan Australia masih menyerap tekanan harga. Cetro Trading Insight mencatat dinamika ini memperkuat sisi fundamental AUD dalam beberapa sesi ke depan.
Deputy Governor RBA Andrew Hauser menegaskan bahwa inflasi tetap tinggi dan bank sentral siap melakukan apa pun yang diperlukan untuk kembali ke target. Komentar ini menambah tekanan hawkish pada kebijakan moneter Australia. Para pelaku pasar menilai peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin di rapat-rapat mendatang meningkat secara signifikan.
Ekspektasi kebijakan yang lebih ketat membuat imbal hasil obligasi Australia relatif lebih menarik bagi investor asing. Hal ini memperkuat argumen bahwa AUD bisa menguat lebih lanjut terhadap USD dalam jangka pendek. Kondisi eksternal yang lebih ramah juga berkontribusi pada daya tarik pasangan AUD/USD.
Selain itu, perubahan harga perumahan yang masih kuat menambah dukungan terhadap AUD karena menelurkan spekulasi bahwa permintaan domestik akan menjaga tekanan harga tetap naik. Para analis menilai bahwa momentum ini akan membantu AUD menjaga bias bullish jangka pendek.
Di pihak Amerika Serikat, laporan NFP menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan pada Januari, melampaui ekspektasi sekitar 70.000. Tingkat pengangguran turun menjadi 4,3% dan pertumbuhan upah tahunan sekitar 3,7%. Data ini memberi sinyal bahwa pasar tenaga kerja masih kuat meski ada risiko volatilitas statistik.
Namun, revisi signifikan terhadap angka sebelumnya menyoroti adanya kelembekan pada tren pekerjaan tahun lalu. Revisi ini memberi sedikit ruang bagi dolar AS untuk menunjukkan sisi yang lebih rapuh, memungkinkan AUD/USD mempertahankan bias bullish dalam jangka pendek.
Investor kini menantikan data berikutnya, termasuk ekspektasi inflasi konsumsi dan rilis data Australia. Rilis tersebut akan menentukan apakah pesan hawkish RBA diteruskan atau melambat, sehingga menguji arah AUDUSD dalam beberapa sesi ke depan.