Baht Thailand mengalami jeda kenaikan pada Januari karena koreksi tajam pada harga emas mengganggu pasar emas ritel. Pergerakan ini menimbulkan aliran FX dua arah dari berbagai kanal seperti toko emas, pegadaian, dan pedagang kecil lainnya. Akibatnya volatilitas di pasar valuta asing sempat memuncak sebelum mulai mereda.
Menurut laporan UOB, pelemahan luas dolar cenderung mendorong USD/THB ke arah bias lebih rendah. Namun laju penguatan baht diperkirakan berjalan lebih terkendali karena dinamika fundamental Thailand masih melekat. Riset bank menekankan bahwa langkah ini sejalan dengan keinginan Bank of Thailand untuk mencerminkan profil fundamental Thailand dengan lebih akurat.
UOB juga menilai bahwa prospek USD/THB didorong oleh ekspektasi pelemahan dolar global dan satu pemotongan suku bunga BOT sebesar 25 basis poin pada kuartal pertama 2026. Mereka memprediksi pola turun bertahap untuk USD/THB dengan potensi perbaikan sentimen ekspor. Proyeksi resmi mereka mencakup level 31.4 untuk 1Q26, 31.2 untuk 2Q26, dan 31.0 untuk 3Q26 serta 4Q26.
Bank of Thailand terus berupaya menenangkan volatilitas melalui operasi mata uang asing. Otoritas juga meningkatkan pengawasan terhadap transaksi terkait emas yang dipakai sebagai instrumen FX sehingga aliran modal dapat terpantau lebih baik. Upaya ini menjadi bagian dari kerangka kebijakan yang menjaga stabilitas pasar keuangan secara keseluruhan.
BOT menegaskan fleksibilitas kebijakan untuk merespons perubahan aliran modal dan volatilitas yang muncul. Mereka menyoroti peningkatan pengawasan atas platform perdagangan emas online serta transaksi emas fisik yang memengaruhi mata uang. Langkah ini sejalan dengan upaya menjaga posisi nilai tukar tetap sejalan dengan fundamenta negara.
Dalam konteks internasional, Thailand tetap berada dalam daftar pemantauan valuta oleh lembaga AS, sehingga kebijakan domestik perlu diselaraskan dengan tekanan eksternal. Para analis menilai bahwa langkah pengawasan dan toleransi risiko ini memberi ruang bagi bank sentral untuk bertindak secara preventif. Hasilnya, stabilitas baht dipandang dapat dipertahankan meski volatilitas global berlanjut.
Dengan peluang pelemahan dolar secara luas, pandangan pasar menunjukkan bias penurunan untuk USD/THB dalam periode mendatang. Asumsi ini didorong oleh perbedaan dinamika kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan negara eksportir Asia serta beberapa pergeseran risiko global. Investor perlu menyimak sinyal fundamental dan teknikal secara bersamaan.
Prediksi pemotongan suku bunga BOT sebesar 25 basis poin pada kuartal pertama 2026 menambah dukungan terhadap skenario baht menguat secara bertahap. Pemotongan ini diharapkan melonggarkan biaya pinjaman dan meningkatkan likuiditas, menarik arus modal jangka pendek. Namun perlu dicatat bahwa laju pelemahan dolar tetap menjadi faktor utama yang membentuk pergerakan USD/THB.
Rangkaian proyeksi teknikal yang dirilis oleh UOB menunjukkan jalur 31.4 pada 1Q26, 31.2 pada 2Q26, dan 31.0 pada 3Q26 hingga 4Q26. Jalur ini menggambarkan tren kenaikan baht secara bertahap meski faktor global volatil. Artikel ini disusun oleh tim Cetro Trading Insight untuk pembaca setia kami.