
Di tengah badai dinamika industri perbankan global, Bank bjb meluncurkan hasil kuartal pertama 2026 yang menegaskan dominasi dalam intermediasi. Laba bersih mencapai Rp410 miliar, sebuah sinyal bahwa fundamental bank tetap kuat meski tantangan ekonomi menantang. Analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti bahwa momentum ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan strategi cermat yang mendorong pertumbuhan berkelanjutan.
Peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi pendorong utama. Net Interest Income (NII) konsolidasi bank bjb mencapai Rp2,05 triliun, naik sekitar 13 persen. Penguatan pendapatan ini didorong oleh optimisasi komposisi portofolio kredit dan pengelolaan biaya dana yang lebih efisien, dua komponen inti dalam menjaga margin intermediasi di level sehat.
Selain fokus pada pertumbuhan, perseroan menegaskan komitmen pada kualitas aset dan likuiditas. Kredit dan pembiayaan total tercatat Rp141,2 triliun, didukung likuiditas yang terjaga dengan DPK Rp159,9 triliun dan LDR 83,5 persen. Transformasi layanan digital juga memperkuat posisi bank dalam menghadapi dinamika pasar dan permintaan nasabah serta menjaga neraca tetap resilien.
Transformasi digital Bank bjb terus menunjukkan progres yang berarti. Hingga Maret 2026, jumlah pengguna DIGI bank bjb mencapai 1,87 juta, sementara fee based income dari kanal elektronik mencapai Rp115,7 miliar. Pencapaian ini mencerminkan efektivitas kanal digital dalam meningkatkan penetrasi layanan serta efisiensi biaya transaksi.
Segmen pinjaman digital ASN melalui program bjb KGB Pisan juga mengalami pertumbuhan yang solid. Outstanding kredit mencapai Rp159,8 miliar dengan kenaikan sebesar 154,1 persen, dan jumlah rekening meningkat menjadi 9.702 NoA. Struktur ini mendongkrak layanan kepada segmen pemerintah daerah dan pegawai publik sebagai basis volume pinjaman.
Ayi Subarna menegaskan bahwa transformasi digital diarahkan untuk meningkatkan kualitas layanan dan kemudahan akses transaksi, sambil menjaga kehati-hatian dan sinergi di ekosistem Kelompok Usaha Bank. Harapannya adalah pertumbuhan berkelanjutan melalui inovasi, layanan yang lebih responsif, dan efisiensi operasional yang berkelanjutan.
Kualitas aset Bank bjb tetap terjaga melalui kebijakan kehati-hatian dan manajemen risiko yang berkelanjutan. Pada sisi intermediasi, kredit dan pembiayaan konsolidasi mencapai Rp141,2 triliun, sementara likuiditas terjaga dengan DPK sebesar Rp159,9 triliun dan LDR sekitar 83,5 persen.
Portofolio pembiayaan berkelanjutan terus berkembang, mencapai Rp14,2 triliun, didukung oleh pembiayaan UMKM, program-program pemerintah, serta komitmen terhadap keberlanjutan. Selain itu, outstanding pembiayaan berkelanjutan dan outstanding sustainable bond mencapai Rp1,9 triliun. Fokus ESG mencerminkan arah strategis bank dalam menjaga keseimbangan antara kinerja keuangan dan dampak sosial serta lingkungan.
Melalui tata kelola yang baik, perlindungan konsumen, dan kepatuhan terhadap regulasi, Bank bjb menegaskan akan memperkuat posisi sebagai salah satu bank pembangunan daerah terkemuka. Transformasi layanan, penguatan layanan nasabah, dan sinergi dengan ekosistem KUB menjadi pilar utama untuk menghadapi dinamika ekonomi wilayah Jawa Barat dan Banten serta perekonomian nasional.