Menurut laporan analis BNY yang dirujuk oleh Cetro Trading Insight, Bank Indonesia diperkirakan akan mempertahankan tingkat 4,75% pada pertemuan 19 Februari. Meski sinyal pelonggaran tetap ada, hambatan kebijakan menuju pemangkasan lebih lanjut masih tinggi. Narasi BI juga terlihat beralih dari fokus pro-tumbuh ke arah stabilitas Rupiah.
Bedah kebijakan menunjukkan kemungkinan intervensi nilai tukar dalam ukuran besar sebagai alat menjaga stabilitas mata uang, meskipun cara operasionalnya lebih ke arah manajemen administratif ketimbang intervensi langsung. Pasar menilai bahwa langkah semacam ini bisa mengimbangi volatilitas aset domestik tanpa mengubah arah kebijakan secara mendasar.
Sebagai faktor pendukung, pengetatan kredit dan langkah administratif seperti pemangkasan produksi nickel turut memberi dukungan pada valuasi Rupiah. Kondisi ini membuat pelaku pasar menimbang risiko dan peluang secara cermat, karena dampaknya cenderung terasa secara bertahap daripada sekaligus.
Dalam konteks ini, BI menegaskan fokus pada kestabilan pasar keuangan sambil menahan laju kredit di tengah volatilitas global dan domestik. Keberlanjutan kebijakan ini menandakan kehati-hatian bank sentral terhadap perubahan arus modal serta tekanan pada aset lokal.
Potensi intervensi FX dalam skala besar diakui sebagai alat pendukung nilai tukar, meskipun sifatnya administratif. Intervensi semacam ini dimaksudkan untuk meredakan lonjakan volatilitas jangka pendek dan menstabilkan outlook Rupiah tanpa mengubah laku kebijakan jangka panjang.
Para analis menilai respons pasar kemungkinan bersifat perlahan, dengan volatilitas terjaga tetapi arah kebijakan tidak berubah secara signifikan dalam waktu dekat. BI menekankan kesiapsiagaan terhadap dinamika pasar sambil menilai data ekonomi terbaru.
Bagi pelaku pasar dan trader, sikap BI menciptakan kerangka probabilitas yang lebih terkelola dalam beberapa bulan ke depan. Instrumen berisiko seperti pasangan mata uang domestik masih dipengaruhi oleh berita kebijakan, meski pergerakannya relatif terukur.
Meski peluang pergerakan USDIDR ada, peluang tersebut tetap tergantung pada irama komunikasi kebijakan dan data inflasi serta kredit domestik. Investor disarankan memadukan analisis fundamental dengan manajemen risiko yang tepat.
Cetro Trading Insight menyarankan pendekatan berhati-hati dan fokus pada horizon menengah, karena efek kebijakan ini cenderung terlihat seiring waktu. Keputusan investasi sebaiknya dilengkapi evaluasi risiko, mengacu pada prinsip manajemen risiko dan target imbal hasil yang rasional.