IHSG kembali terkoreksi 0,64 persen ke level 8.212, menegaskan tekanan jual yang masih dominan di pasar modal nasional. Dalam laporan riset MNC Sekuritas pada Selasa, para analis menyoroti bahwa pergerakan indeks masih rentan terhadap fluktuasi jangka pendek meski sinyal teknikal menunjukkan peluang rebound terbatas. Cetro Trading Insight, sebagai wadah analisis pasar, menyajikan gambaran yang mudah dipahami bagi pembaca awam tanpa mengurangi kedalaman kajian.
Gambaran teknikal IHSG menunjukkan indeks berada dalam bagian akhir pola wave x, dengan potensi gelombang c yang bisa membawa indeks naik ke kisaran 8.377–8.440 jika sentimen membaik. Namun, risiko koreksi bisa berlanjut ke 8.098–8.155 bila sentimen kembali melemah. Kondisi ini menuntut manajemen risiko yang jelas bagi trader jangka pendek.
Secara umum, level dukungan yang perlu diawaskan berada di 7.863 dan 7.712, sementara resistance terdekat berada di 8.354 dan 8.517. Rekomendasi utama adalah menjaga eksposur secara hati-hati sambil menunggu konfirmasi sinyal dari saham-saham unggulan. Artikel ini merangkum inti panduan bagi pembaca untuk mengambil keputusan sesuai strategi masing-masing.
INDY sempat terkoreksi 0,84 persen ke Rp3.560, tetap berada di bawah tekanan jual meski volume cenderung menurun. Dari sisi pola, INDY dipandang berada pada bagian wave ii dari wave 5, yang menandakan adanya peluang rebound jika kondisi teknikal mendukung. Secara umum, pembaca dapat memperhatikan skema Buy on Weakness sebagai opsi aksi.
Buy on Weakness untuk INDY dipetakan pada kisaran Rp3.190–3.420 dengan target harga Rp3.840 dan Rp4.070. Stoploss ditempatkan di bawah Rp3.150 guna membatasi risiko jika pergerakan berbalik arah. Trader dianjurkan mengakumulasi posisi secara bertahap sambil menunggu konfirmasi sinyal rebound yang lebih kuat.
ISAT juga menguat 0,45 persen ke Rp2.230, meski tekanan jual masih terasa dan MA60 menjadi batasan pergerakannya. Menurut analisa, ISAT berada pada bagian awal wave iii dari wave C, dengan potensi target Rp2.310 dan Rp2.400. Buy on Weakness untuk ISAT disarankan pada kisaran Rp2.120–2.180 dengan stoploss di bawah Rp2.090.
MAPI turut menunjukkan dinamika positif dengan kenaikan sekitar 2,32 persen ke Rp1.325 dan disertai munculnya volume pembelian. Diperkirakan posisinya berada pada bagian wave iii dari wave A dalam pola B, memberikan peluang kenaikan jika momentum tetap terjaga. Buy on Weakness: Rp1.265–1.305; target Rp1.385 dan Rp1.440; stoploss di bawah Rp1.255.
UNTR menguat 2,26 persen menjadi Rp29.400 dan diiringi volume pembelian, namun struktur teknikal menunjukkan posisi pada bagian wave ii dari wave 5. Hal ini menandakan potensi koreksi lanjutan jika arus pasar berbalik arah. Skenario demikian membuat investor perlu memasang alert di kisaran Rp26.375–28.325 untuk potensi pembalikan arah.
Sell on Strength ditetapkan pada kisaran Rp29.575–29.800, menandai peluang untuk mengambil keuntungan dari momentum pemulihan yang sudah dekat atau telah tercapai. Strategi ini dapat menambah volatilitas IHSG dalam sesi berikutnya, sehingga manajemen risiko dan ukuran posisi perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pelaku pasar.
Secara keseluruhan, dinamika UNTR meningkatkan volatilitas sektor komoditas yang pada gilirannya berdampak pada arah IHSG secara keseluruhan. Cetro Trading Insight akan terus memantau pergerakan IHSG dan saham-saham terkait untuk menyajikan pembahasan peluang lebih lanjut pada edisi berikutnya. Kolaborasi antara analisis teknikal dan manajemen risiko menjadi kunci dalam menghadapi gerak pasar yang dinamis.