BNI membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp20 triliun sepanjang 2025, sebuah capaian yang menandai fase pemulihan dan kekuatan fundamental bank nasional. Terlepas dari gejolak pasar dan perubahan suku bunga global, BNI berhasil menjaga arah pertumbuhan yang sehat. Hal ini menegaskan posisi BNI sebagai salah satu mesin uang yang andal di sektor perbankan Indonesia.
Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 15,9 persen secara tahunan, didorong oleh ekspansi ke sektor-sektor produktif. Struktur pendanaan yang didorong oleh CASA semakin kokoh, menurunkan biaya dana dan meningkatkan efisiensi operasional. Kebijakan ini menempatkan BNI pada posisi yang lebih kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.
Secara kinerja kuartal IV 2025, PPOP mencapai Rp9,4 triliun, menandai rekor tertinggi dalam empat kuartal. Pendapatan operasional ini didorong oleh peningkatan NII dan fee based income, meski NII tertekan akibat pelonggaran suku bunga acuan. Ulasan kinerja ini mencerminkan progres yang konsisten meski tantangan suku bunga tetap ada.
Kualitas aset BNI menunjukkan perbaikan berkelanjutan dengan NPL bruto 1,9 persen, turun 10 basis poin YoY, dan LaR 8,5 persen turun 1,8 poin. Rasio pencadangan pun kuat, dengan NPL coverage mencapai 205,5 persen dan LaR coverage 46,9 persen, menunjukkan kewaspadaan prudent dalam menghadapi risiko kredit.
Kami melihat pemanfaatan data analytics dan early warning system sebagai kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali. Underwriting diperkuat, pemantauan portofolio dilakukan secara granular, dan penanganan kredit bermasalah dilakukan secara dini untuk mengurangi potensi gangguan di masa mendatang.
BNI juga memperlihatkan progres dalam pembiayaan berkelanjutan, dengan portofolio Rp197 triliun atau sekitar 22 persen dari total kredit. Sektor prioritas meliputi energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam dan penggunaan lahan, pengelolaan air dan limbah, serta UMKM. Ke depan, bank berkomitmen memperluas pembiayaan hijau seperti energi terbarukan, transportasi ramah lingkungan, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Keberlanjutan telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI, dengan pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp197 triliun dan menembus sekitar 22 persen dari total kredit. Pembiayaan tersebut diarahkan ke sektor-sektor hijau yang mendukung pembangunan berkelanjutan dan menjaga risiko terkait pembiayaan tetap terkendalikan.
BNI juga menegaskan bahwa pendanaan berbasis CASA tidak hanya menekan biaya modal, tetapi juga memperkuat likuiditas jangka panjang. Momentum ini memperkuat fundamental bank, mendukung ekspansi operasional, dan menjaga margin di tengah volatilitas pasar fiskal dan moneter.
Secara keseluruhan, kinerja 2025 menunjukkan bahwa BNI siap menghadapi tantangan 2026 dengan pondasi yang kuat. Bagi investor, volatilitas akan tetap ada, namun profil risiko-imbalan yang lebih baik dan keberlanjutan strategi memberikan peluang pertumbuhan yang berkelanjutan bagi saham BBNI.