Dalam ulasan Ekonomi oleh Cetro Trading Insight, Vale Indonesia menunjukkan gebrakan di awal tahun. Laba bersih INCO mencapai USD43,6 juta, setara Rp757,11 miliar, meningkat 85% secara kuartalan. Hal ini menegaskan bahwa fondasi keuangan tetap kuat meski produksi nikel matte lebih rendah dari periode sebelumnya.
Pendapatan tercatat USD252,7 juta dan EBITDA USD80,1 juta, masing-masing naik beriringan dengan momentum harga komoditas dan efisiensi operasional. Perbaikan margin terjadi karena kombinasi harga jual yang lebih tinggi serta disiplin pengeluaran yang berkelanjutan.
Vale menegaskan bahwa hasil positif ini sejalan dengan rencana, termasuk pemeliharaan terjadwal seperti peningkatan Furnace 3 dan persetujuan RKAB 2026. Meskipun ada penurunan produksi di beberapa lini, perusahaan tetap menjaga garis bawah yang kokoh melalui kendali biaya dan pelaksanaan operasional yang efisien.
Harga nikel matte menjadi pendorong utama kinerja. Rata-rata harga USD14.213 per ton pada kuartal I-2026 menandai kenaikan sekitar 15% dari kuartal IV-2025, mendorong peningkatan pendapatan secara signifikan. Kondisi pasar global yang membaik memberikan ruang bagi Vale untuk memanfaatkan momentum ini.
Biaya operasional per unit tetap kompetitif meski input mengalami penyesuaian. Misalnya, biaya tunai per ton nikel matte sekitar USD10.382, sedikit lebih tinggi dibanding kuartal sebelumnya karena biaya input lebih tinggi, sedangkan biaya bijih nikel Bahodopi dan Pomalaa terjaga di kisaran tertentu.
Rencana pemeliharaan serta optimalisasi skala produksi di blok-blok pertambangan diharapkan meningkatkan efisiensi biaya. Volume yang lebih tinggi di Pomalaa diperkirakan mendukung skala ekonomi dan membantu menyeimbangkan profil biaya secara keseluruhan.
2026 menjadi tahun penting bagi Vale dengan pengoperasian tiga blok tambang secara bersamaan: Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa. Langkah ini ditujukan untuk meningkatkan volume produksi dan memperluas portofolio penjualan bijih nikel limonit, termasuk penjualan pertama dari area Pomalaa pada awal tahun.
Volume produksi yang lebih tinggi diharapkan berlanjut seiring dengan pembukaan potensi pasar baru dan diversifikasi pendapatan. Target tahunan produksi dipatok sebesar 67.645 ton, menempatkan Vale pada posisi memanfaatkan peningkatan harga nikel LME yang lebih tinggi.
Prospek EBITDA, pendapatan, dan laba diperkirakan lebih kuat di sisa 2026, sejalan dengan peningkatan leverage operasional dan margin yang lebih lebar. Perbaikan dinamika harga nikel global menjadi faktor utama yang mendukung kinerja keuangan ke depan.