Nikel Menguat Karena Pemangkasan Produksi HPAL Indonesia: Peluang Sinyal Beli untuk Nickel

Nikel Menguat Karena Pemangkasan Produksi HPAL Indonesia: Peluang Sinyal Beli untuk Nickel

Signal NICKEL/USDBUY
Open19510
TP21780
SL18000
trading sekarang

Harga nikel melompat secara gemilang di pasar berjangka Shanghai pada Rabu, 29 April 2026, menembus level tertinggi tiga bulan dan menyalakan kilatan optimisme di kalangan trader. Kontrak nikel utama SHFE naik 1,2 persen menjadi 150.550 yuan per ton dan sempat menyentuh 152.230 yuan pada sesi intraday. Penguatan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa produksi HPAL Indonesia bisa membatasi pasokan logam untuk baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik. Investor global memantau langkah produsen nikel China yang memperketat operasional di negara produsen.

Di pasar global, patokan LME juga bergerak menguat, dengan kontrak nikel acuan tiga bulan naik 0,31 persen ke USD 19.510 per ton, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi hampir dua tahun di USD 19.565. Kenaikan ini mencerminkan ketegangan pasokan yang bisa berlanjut seiring munculnya risiko produksi di negara penghasil logam utama. Pada sisi lain, sepanjang April harga nikel di SHFE dan LME telah menguat sekitar 11% dan 13% secara year-to-date.

Analisis dari Morgan Stanley menyoroti bahwa produsen nikel berbasis high-pressure acid leach (HPAL) di Indonesia menyumbang sekitar 14% dari pasokan global dan menghadapi tekanan akibat kenaikan harga sulfur yang meningkatkan biaya produksi. Karena itu, diperkirakan harga nikel bisa tetap menguat dalam beberapa bulan ke depan. Dalam laporan analitisnya, Cetro Trading Insight menilai dinamika pasokan global akan tetap menjadi kunci arah pasar.

Di SHFE, nikel menguat 1,2% menjadi 150.550 yuan per ton dan sempat menyentuh 152.230 yuan, level tertinggi sejak 26 Januari. Sinyal teknikal dan fundamental menyatu karena kekhawatiran pengetatan pasokan HPAL Indonesia. Sementara pada LME, kontrak nikel acuan tiga bulan naik 0,31% menjadi USD 19.510 per ton setelah kemarin menyentuh level tertinggi mendekati dua tahun.

Selain itu, kelangkaan sulfur di tengah konflik Timur Tengah menambah beban biaya produksi bagi proyek nikel yang menggunakan HPAL, sehingga tekanan biaya operasional lebih tinggi bagi para produsen. Hal ini berpotensi mendukung pergerakan harga ke arah lebih tinggi jika pasokan tetap ketat dan permintaan tetap kuat.

Sepanjang April, harga nikel di SHFE dan LME telah menguat sekitar 11% dan 13% masing-masing, menunjukkan respons pasar terhadap dinamika pasokan dan biaya input yang meningkat.

Analisis Prospek Pasar dan Strategi Trading

Analisis fundamental menunjukkan bahwa tekanan pasokan dan biaya produksi yang lebih tinggi mendukung prospek kenaikan harga nikel dalam beberapa waktu ke depan. Morgan Stanley menilai bahwa HPAL Indonesia tetap menjadi faktor utama penentu pasokan global, sehingga setiap gangguan dapat memicu reaksi harga lebih lanjut.

Cetro Trading Insight menekankan bahwa rencana Zhejiang Huayou Cobalt untuk menghentikan sebagian lini produksi di Indonesia mulai 1 Mei meningkatkan narasi pasokan yang rapat. Investor disarankan memperhatikan berita operasional dan kebijakan regulasi terkait logam ini.

Dengan kondisi pasar yang masih rapat dan risiko geopolitik yang berisiko, sinyal trading yang diambil adalah beli pada level saat ini dengan level stop dan target yang jelas. Pair yang relevan adalah NICKELUSD, dengan entry sekitar 19.510 USD/ton, target 21.780 USD/ton, dan stop loss di 18.000 USD/ton. Risk:Reward sekitar 1:1,5 untuk skenario ini.

banner footer