Analisis BNP Paribas menyatakan bahwa ekonomi AS diperkirakan tumbuh di atas potensi pada 2026, dengan rata-rata pertumbuhan sekitar 2.9 persen per tahun. Pertumbuhan ini didorong oleh kontribusi kuat dari konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi, meskipun ada tekanan dari tarif perdagangan yang membatasi momentum. Inflasi diperkirakan tetap di atas target sekitar 2.7 persen pada 2026, meski dampak tarif dinilai berkurang dari ekspektasi awal.
Dari sisi kebijakan moneter, FOMC diperkirakan telah memangkas suku bunga secara kumulatif sebesar 75 basis poin pada tahun 2025. Untuk 2026, kisaran target Fed Funds diperkirakan dipertahankan pada 3.5–3.75 persen. Penjagaan jalur kebijakan ini mencerminkan upaya menyeimbangkan dukungan pertumbuhan dengan tujuan menahan laju inflasi. Secara umum, gambaran kebijakan tidak menunjukkan perubahan besar sepanjang tahun mendatang.
Dalam kerangka tersebut, dolar diproyeksikan melemah terhadap euro sementara yen dan pound diperkirakan menunjukkan pelemahan relatif terhadap dolar menuju akhir 2026. Pasar mata uang akan tetap sensitif terhadap data inflasi, perubahan tarif, serta pernyataan kebijakan dari bank sentral terkait. Investor disarankan untuk memperhatikan perubahan narasi perdagangan dan dinamika tarif yang bisa mempengaruhi arah dolar.
Prediksi tersebut menyoroti potensi perubahan arah pada pasangan mata uang utama. Ketika dolar melemah terhadap euro, EURUSD berpeluang menguat jika tekanan inflasi dan kebijakan ECB mendukung. Namun pergerakan jangka menengah sangat bergantung pada data ekonomi AS dan respons pelaku pasar terhadap langkah-langkah kebijakan selanjutnya. Nada kebijakan fiskal dan perdagangan juga menjadi faktor penting dalam volatilitas pasangan ini.
Kedua, pergerakan terhadap yen dan pound menunjukkan dinamika yang berbeda meski tetap terhubung secara tak langsung dengan arah dolar. Pelemahan yen dan pound terhadap dolar mengindikasikan dolar yang relatif kuat terhadap kedua mata uang tersebut dalam beberapa kuartal mendatang. Investor perlu mempertimbangkan risiko volatilitas yang meningkat serta respons bank sentral Jepang dan Inggris terhadap data inflasi dan pertumbuhan.
Terakhir, risiko utama mencakup perubahan kebijakan tarif, dinamika arus perdagangan global, dan respons terhadap data inflasi. Semua faktor ini bisa memodulasi arah mata uang secara signifikan dalam beberapa kuartal ke depan. Karena konteksnya bersifat makro, pendekatan investasi yang tepat adalah diversifikasi, fokus pada horizon jangka panjang, serta manajemen risiko yang hati-hati untuk mengurangi kejutan pasar.