BNP Paribas Perkirakan Pertumbuhan AS 2026 2,9% Didorong Investasi AI dan Konsumsi Berpendapatan Tinggi

trading sekarang

BNP Paribas memperkirakan pertumbuhan produk domestik bruto AS sekitar 2,9% pada 2026, lebih tinggi dari level potensi jangka panjang dan lebih baik dibanding 2025. Pertumbuhan ini dinilai didorong oleh lonjakan investasi terkait kecerdasan buatan (AI) serta peningkatan konsumsi rumah tangga berpendapatan tinggi. Analisis ini disusun untuk pembaca awam dengan bahasa yang jelas namun tetap profesional.

Penjelasan untuk investor adalah bahwa AI dapat meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, membuka peluang pendapatan korporasi, dan memicu investasi modal. Sisi konsumsi rumah tangga berpendapatan tinggi memberikan bantalan permintaan domestik meskipun tantangan global tetap ada. BNP Paribas menekankan bahwa dinamika ini bisa mengubah lanskap pertumbuhan dengan cara yang lebih berkelanjutan jika inovasi teknologi berjalan sejalan dengan kebijakan fiskal.

Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami arti proyeksi tersebut bagi pasar dan risiko yang perlu diwaspadai. Meski optimisme terlihat dari angka 2,9%, para analis menekankan pentingnya memantau perkembangan pada sektor perdagangan, kebijakan tenaga kerja, dan respons kebijakan moneter. Dengan demikian, panduan ini berfokus pada implikasi praktis bagi manajemen risiko portofolio dan alokasi aset.

Inflasi diperkirakan berada di sekitar 2,7% pada 2026, sedikit lebih tinggi dari target resmi. Tariff dan hambatan perdagangan dinilai menjadi pendorong utama tekanan biaya yang berlanjut meskipun dampaknya tidak sebesar ekspektasi awal. Proyeksi ini juga menunjukkan bahwa overshooting inflasi diperkirakan bertahan setidaknya hingga akhir 2027.

Tarif terkait impor memberi sinyal kepada pelaku pasar bahwa biaya input dapat tetap tinggi meskipun pertumbuhan ekonomi moderat. Ketegangan perdagangan, disertai kemungkinan volatilitas mata uang dan obligasi, membuat investor perlu menilai ulang ekspektasi return jangka menengah. Analisis ini menekankan perlunya diversifikasi dan kehati-hatian terhadap fluktuasi harga konsumen.

Dalam kerangka kebijakan, inflasi yang relatif tinggi memperumit tujuan stabilitas harga sambil mempertahankan rencana kerja pasar tenaga kerja. Perubahan kebijakan perdagangan juga bisa mengubah dinamika input biaya bagi perusahaan, sehingga prospek pendapatan perusahaan perlu diawasai. Pembaca didorong untuk memantau angka inflasi update dan signal kebijakan fiskal yang terkait.

FOMC telah memangkas total 75 basis poin pada 2025, menandai respons kebijakan terhadap tekanan ekonomi. BNP Paribas memperkirakan Fed Funds target akan dipertahankan pada kisaran 3,5%–3,75% sepanjang 2026, memberikan kerangka kebijakan yang relatif stabil. Kebijakan ini mencerminkan keseimbangan antara dukungan pertumbuhan dan upaya menjaga stabilitas inflasi.

Pertimbangan fokus pada pekerjaan sebagai bagian dari mandat ganda bank sentral memperkaya dinamika kebijakan. Jika tenaga kerja tetap kuat, peluang untuk mempertahankan laju pemangkasan lebih lanjut bisa berkurang, sementara jika pasar kerja melemah, tekanan untuk menyesuaikan suku bunga bisa meningkat. Investor perlu memahami bahwa dinamika ini berdampak pada suku bunga jangka menengah dan imbal hasil pasar obligasi.

Pelaku pasar diundang untuk menilai bagaimana alokasi aset dapat dioptimalkan di tengah pergeseran prospek inflasi dan suku bunga. Kunci strategi termasuk diversifikasi geografi dan kelas aset, serta kesiapan menghadapi volatilitas seiring perubahan ekspektasi kebijakan. Analisis ini menekankan bahwa peluang bagi sektor yang sensitif terhadap siklus, seperti saham teknologi terkait AI, perlu diamati secara cermat.

broker terbaik indonesia