Menurut Lynn Song, Kepala Ekonom Taiwan untuk wilayah Greater China, ekspor Januari 2026 melonjak 69,9% secara tahunan, tercepat sejak 2010. Lonjakan ini dipicu oleh dorongan sektor teknologi yang kuat dan efek Tahun Baru Imlek yang meningkatkan permintaan musiman. Hasil tersebut melampaui ekspektasi pasar dan menegaskan adanya momentum pemulihan pada lini manufaktur yang berfokus pada teknologi tinggi.
Data menunjukkan perubahan dinamika tujuan ekspor secara temporer, dengan Amerika Serikat sempat menjadi destinasi ekspor terbesar menggantikan China daratan dan Hong Kong. Meski demikian, catatan untuk 2025 tetap menunjukkan China dan Hong Kong sebagai tujuan utama ekspor Taiwan, dengan porsi 27,7% dibanding 21,8% ke AS.
Impor yang kuat dan surplus ekspor bersih juga menjadi penopang utama, dengan net exports mencapai sekitar US$18,9 miliar pada awal tahun ini. Kondisi ini menandakan arus perdagangan yang sehat dan memperkuat proyeksi pertumbuhan Taiwan di kuartal awal 2026. Secara keseluruhan, para analis menggarisbawahi bahwa momentum ekspor berpotensi berlanjut jika permintaan global tetap mendukung.
Komposisi perdagangan 2025 menunjukkan kontribusi terbesar berasal dari China dan Hong Kong dengan 27,7% dari total ekspor, sedangkan Amerika Serikat menyumbang sekitar 21,8%. Tren ini mencerminkan ketergantungan ekspor Taiwan terhadap mitra regional dan pasar teknologi utama. Para analis melihat pola serupa berlanjut pada 2026 meski basis perbandingan menjadi lebih menantang.
Meski base effect menjadi lebih menantang, pola produk ekspor yang sama tetap mendominasi pada 2026—terutama produk teknologi dan komponen digital yang tengah mendapat permintaan kuat. Dinamika permintaan global menunjukkan bahwa struktur ekspor Taiwan lebih berorientasi pada nilai tambah. Stabilitas impor juga mendukung kapasitas produksi dan logistik yang diperlukan untuk menjaga aliran ekspor.
Netto ekspor Taiwan pada awal 2026 memberi sinyal positif bagi prospek pertumbuhan, meski risiko eksternal tetap ada. Permintaan dari pasar teknologi, cloud computing, dan otomasi menjadi pendorong utama. Menurut Cetro Trading Insight, dinamika ini perlu dipantau terhadap potensi perubahan kebijakan serta risiko volatilitas permintaan.
Para investor akan memantau apakah trajektori ekspor Taiwan bertahan sepanjang 2026. Lonjakan awal ini berpotensi meningkatkan output industri dan memperpanjang momentum bagi sektor manufaktur berteknologi tinggi. Namun, dinamika permintaan global serta kebijakan perdagangan mitra utama tetap menjadi faktor yang bisa mempercepat atau memperlambat laju peningkatan.
Risiko utama meliputi fluktuasi permintaan global untuk barang teknologi, gangguan rantai pasokan, serta variasi kebijakan ekspor-impor di mitra utama. Ketidakpastian ekonomi negara tujuan utama bisa menekan pertumbuhan ekspor jika permintaan melambat. Upaya diversifikasi pasar menjadi strategi kritis bagi Taiwan dalam menghadapi volatilitas jangka pendek.
Dengan catatan net eksport tetap positif dan momentum permintaan global kemungkinan bertahan, Taiwan dapat melihat pertumbuhan relatif stabil di awal 2026. Namun base effect yang lebih sulit dan risiko eksternal memerlukan perhatian kebijakan fiskal dan ekspor. Menurut analisis Cetro Trading Insight, prospek jangka menengah tetap tergantung pada soliditas permintaan teknologi, kapasitas produksi, dan kebijakan perdagangan internasional.