Nomura economists menilai lonjakan harga energi akan menjadi beban utama bagi pertumbuhan zona euro, lebih besar dibandingkan kejutan inflasi jangka pendek. Mereka menyoroti pasar tenaga kerja yang lebih lemah di Eropa Utara, ruang fiskal yang relatif sempit, serta kapasitas cadangan yang masih tinggi, yang cenderung menahan tekanan kenaikan upah dan permintaan agregat. Laporan ini disusun untuk Cetro Trading Insight sebagai bagian dari upaya memahami dinamika makro yang membentuk prospek euro.
Meskipun harga energi masih berada di level tinggi, levelnya lebih moderat dibandingkan puncak 2022, ketika minyak berada di atas USD100 per barel dan harga gas Eropa mencapai puncak sekitar €340/MWh. IMF dalam proyeksi semi-tahunan terbarunya memperkirakan output gap zona euro pada 2026 sekitar -0,2% dari potensi PDB, turun dari +0,8% pada 2022, menandakan pertumbuhan yang lebih lemah secara relatif. Kondisi ini menegaskan bahwa gangguan pasokan yang luas tidak lagi menjadi faktor utama, sehingga risiko inflasi jangka menengah diharapkan mereda seiring waktu.
Mengenai kebijakan moneter, langkah pengetatan yang dilakukan bank-bank sentral untuk menangani masalah inflasi sebelumnya tampaknya mulai menunjukkan efek yang diinginkan. Inflasi di Eropa menunjukkan jalur menurun sejak beberapa waktu, meskipun ada sisa kepekaan pada inflasi jasa. Sambil terus memantau perkembangan, para analis menilai bahwa dinamika energi dan kapasitas ekonomi akan tetap membentuk jalur kebijakan ke depan.
Tekanan harga jangka pendek tetap relevan seiring harga energi yang masih tinggi dan volatilitas pasar energi global. Meski ada penurunan di beberapa komponen, tekanan pada harga barang dan jasa berkelanjutan, sehingga prospek inflasi jangka menengah tetap dilihat secara hati-hati. Oleh karena itu, pembaca Cetro Trading Insight perlu memahami bahwa arah kebijakan harga dipengaruhi oleh faktor energi dan dinamika pasar tenaga kerja.
Di satu sisi, pelonggaran output gap yang saat ini tidak terlalu besar menunjukkan bahwa pertumbuhan zona euro masih rentan terhadap kejutan eksternal. IMF dan otoritas moneter telah menekankan bahwa jalannya kebijakan ketat saat ini bertujuan menurunkan inflasi tanpa menimbulkan kontraksi yang signifikan pada aktivitas. Walau demikian, dampak kebijakan perlu dinilai secara berkala seiring perubahan harga energi dan kecepatan pengetatan.
Di sisi lain, beberapa segmen inflasi, terutama layanan, menunjukkan sisa kaku yang bisa menahan penurunan inflasi secara lebih luas. Karena itu, investor perlu memperhatikan pergeseran biaya tenaga kerja, produktivitas, serta dinamika harga energi sebagai indikator utama arah inflasi jangka menengah. Secara keseluruhan, narasi ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas harga.
IMF memperkirakan output gap zona euro pada 2026 sekitar -0,2% dari potensi PDB, dibandingkan sekitar +0,8% pada 2022. Angka ini menandai perlambatan relatif dalam pertumbuhan yang bisa mempengaruhi prospek kebijakan fiskal dan moneter. Dalam konteks itu, kebijakan makro perlu menyeimbangkan dorongan pertumbuhan dengan komitmen menjaga inflasi tetap terkendali.
Keputusan bank sentral untuk melanjutkan pengetatan kebijakan demi meredam inflasi menunjukkan hasil yang terlihat pada beberapa indikator harga. Efeknya terlihat pada pelambatan inflasi di sejumlah negara Eropa, meskipun laju penurunan berbeda antar sektor dan wilayah. Risiko eksternal seperti volatilitas energi serta ketegangan geopolitik tetap menjadi fokus utama bagi pembuat kebijakan.
Secara keseluruhan, harga energi tidak setinggi puncaknya pada 2022 dan jalur inflasi cenderung melandai memberi ruang bagi pembuat kebijakan untuk menilai keseimbangan antara menjaga pertumbuhan dengan stabilitas harga. Narasi ini juga menyoroti bagaimana proyeksi IMF dan dinamika kebijakan mempengaruhi prospek nilai tukar euro, sehingga investor sebaiknya mengikuti perkembangan kebijakan fiskal, reformasi tenaga kerja, dan reformasi energi yang relevan. Laporan ini disusun untuk Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami implikasi makro terhadap pasar.