Dalam beberapa jam terakhir, harga minyak mentah Brent melonjak akibat eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Lonjakan ini juga didorong oleh penguatan dolar AS, yang memberi tekanan pada mata uang negara pengimpor minyak. Brent sekarang diperdagangkan di atas 70 USD per barel, mendekati level tertinggi sejak Juni 2025.
Menurut catatan OCBCs Sim Moh Siong dan Christopher Wong, dinamika geopolitik tetap menjadi faktor utama, sementara pergerakan mata uang juga menambah volatilitas. Laporan ini menyoroti bahwa pasar minyak cenderung tetap terimbuh pasokan dan bahwa perubahan aliran uang bisa memicu reaksi singkat pada harga.
Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight dan telah direview oleh editor. Meskipun risiko geopolitik tetap ada, analisis menunjukkan dasar pasar minyak berpotensi menurun seiring dengan ekspektasi inventaris membengkak dan produksi yang cukup.
Riset menunjukkan pasar minyak masih didukung oleh pasokan yang cukup dan potensi peningkatan persediaan, sehingga tekanan ke bawah diperkirakan berlanjut sepanjang 2026. Brent diperkirakan turun mendekati akhir tahun dengan bottom sekitar 59 USD per barel.
Meski volatilitas jangka pendek terasa, proyeksi menunjukkan tren penurunan yang berkelanjutan di sepanjang 2026 karena kapasitas produksi global tetap longgar dan arus minyak tetap stabil.
Beberapa sumber menyoroti bahwa perubahan permintaan di berbagai wilayah dan dinamika inventaris akan memperkuat tren penurunan harga di beberapa kuartal mendatang, dengan fokus pada potensi pelonggaran di sisa tahun ini. Laporan menilai bahwa bottom sekitar 59 USD per barel diperkirakan tercapai pada akhir tahun.
Analisis menyebut bahwa ketegangan geopolitik mendorong langkah-langkah keamanan regional, dengan AS meningkatkan kehadiran udara di Timur Tengah. Respons ini meningkatkan sentimen risiko di pasar energi dan memicu pergeseran aliran perdagangan minyak jika konflik meluas. Laporan juga menyoroti bahwa kapasitas udara regional berada pada level tertinggi sejak invasi Irak 2003.
Seiring dengan konsensus base case yang menunjukkan pelurusan pada jangka menengah, para pelaku pasar tetap memantau dinamika inventaris dan produksi global sebagai pendorong utama pergerakan harga. Prospek menjaga arus pasokan yang cukup membuat tekanan turun lebih mungkin terjadi sepanjang 2026.
Dalam praktik perdagangan, strategi yang dianjurkan menekankan kehati-hatian pada volatilitas jangka pendek namun tetap mengikuti arah umum penurunan. Berdasarkan proyeksi, level target sekitar 60 USD per barel menjadi pertimbangan jika harga melanjutkan penurunan, dengan stop loss di sekitar 75 USD untuk mengelola risiko.