BRIS mencetak tonggak historis dengan kinerja 2025 yang membuat pasar perbankan terpana. Bank Syariah Indonesia menempatkan diri sebagai pilihan utama di segmen perbankan yang tumbuh stabil, didorong oleh ekspansi bisnis emas yang diminati nasabah luas. Sebagai bagian dari Cetro Trading Insight, kami menyajikan analisis ini agar pembaca awam dapat memahami dampak angka-angka tersebut tanpa kehilangan inti kebijakan syariah dan dinamika pasar. Segmen ini menyoroti bagaimana kinerja 2025 menjadi fondasi untuk rencana ekspansi di tahun berikutnya.
Performa 2025 menunjukkan BRIS berhasil menggabungkan intermediasi perbankan dengan peluang emas melalui lisensi bullion bank. Pendapatan berbasis fee melonjak 25,06 persen YoY, didorong terutama oleh lonjakan bisnis emas yang menjadi mesin penggerak utama. Likuiditas meningkat sejalan dengan pertumbuhan tabungan nasabah sebesar 15,72 persen YoY, menambah kestabilan pendanaan jangka panjang. Harga emas dunia saat ini menjadi faktor utama dalam dinamika pendanaan dan preferensi nasabah yang semakin beragam.
Analisis Bahana Sekuritas menilai produk emas sebagai pintu masuk untuk akuisisi nasabah baru serta penguatan cross-selling. Analis Citibank juga mengapresiasi penurunan biaya dana seiring bertambahnya nasabah Tabungan Haji. Dengan posisi BRIS sebagai bank syariah dan bullion pertama di Indonesia, prospek pertumbuhan dinilai sangat positif secara struktural. Array faktor pendukung seperti sinergi antara layanan syariah dan emas menjaga daya saing BRIS di industri.
Likuiditas BRIS terus tumbuh sejalan dengan ekspansi bisnis emas dan peningkatan kepercayaan nasabah. Dana Pihak Ketiga berhasil mencapai level yang menunjukkan performa intermediasi yang sehat. Manajemen menegaskan bahwa pertumbuhan deposito didorong oleh program yang tepat sasaran dan kemudahan akses layanan.
Total DPK mencapai Rp380 triliun, didorong oleh lonjakan tabungan dan deposito berjangka. Pembiayaan Emas tumbuh sangat kuat, mencapai 78,60 persen YoY menjadi Rp22,9 triliun, menunjukkan fundamental emas menjadi instrumen andalan BRIS. Harga emas dunia saat ini menjadi variabel penting yang mempengaruhi keputusan pembiayaan dan preferensi nasabah terhadap produk emas BRIS.
CoF BRIS berada di level 2,58 persen, sedangkan CoC 0,84 persen, menunjukkan efisiensi biaya yang terjaga dan kualitas pembiayaan yang sehat. Strategi produk high yield menjadi kunci peningkatan margin pendapatan bagi hasil sebesar 11,74 persen YoY. Array analitik menunjukkan bahwa sinergi antara segmen perbankan syariah dan bisnis emas memperkuat keunggulan BRIS di sektor perbankan syariah.
Proyeksi laba bersih BRIS untuk 2026 menunjukkan optimisme pasar, dengan konsensus Bloomberg berada pada sekitar Rp8,8 triliun. Angka tersebut mengindikasikan kelanjutan tren pertumbuhan yang didorong oleh ekspansi layanan emas dan peningkatan basis nasabah. Analisis ini menekankan bahwa inovasi produk syariah tetap menjadi pilar utama strategi ekspansi BRIS, sesuai dengan arah kebijakan Astacita Pemerintah.
Data kinerja 2025 memperlihatkan aset BRIS tumbuh 11,64 persen YoY, didorong oleh pertumbuhan DPK sebesar 16,20 persen YoY. Kualitas pembiayaan terjaga dengan NPF gross 1,81 persen, membaik 9 bps dari tahun sebelumnya. Kondisi likuiditas yang kuat memungkinkan BRIS terus menyalurkan pembiayaan secara tepat sasaran dan mendukung target laba. Harga emas dunia saat ini juga menjadi variabel penting yang perlu diawasi karena volatilitasnya bisa mempengaruhi strategi pembiayaan emas BRIS.
BRIS diposisikan sebagai pilar integrasi keuangan syariah dan bullion pertama di Indonesia, dengan peluang pertumbuhan struktural yang solid. Manajemen berkomitmen menjaga keseimbangan antara intermediasi, likuiditas, dan pembiayaan emas untuk menjaga daya saing jangka panjang. Array analitik dari Cetro Trading Insight menyoroti potensi sinergi ini sebagai fondasi bagi langkah-langkah strategis 2026 dan seterusnya.