BSI Dorong Pembiayaan Berkelanjutan dan UMKM sebagai Motor Ekonomi Hijau Nasional

BSI Dorong Pembiayaan Berkelanjutan dan UMKM sebagai Motor Ekonomi Hijau Nasional

trading sekarang

Di tengah dinamika ekonomi nasional yang semakin menantang, Bank Syariah Indonesia (BSI) menegaskan diri sebagai poros utama pembiayaan berkelanjutan, mengubah tantangan menjadi peluang bagi UMKM dan sektor hijau. Laporan kinerja 2025 menunjukkan pembiayaan berkelanjutan mencapai Rp73,92 triliun, naik 11,20% secara YoY, dengan kontribusi UMKM Rp58,26 triliun, pembiayaan hijau Rp15,66 triliun, Sustainability Sukuk Rp5 triliun, serta pembiayaan kendaraan ramah lingkungan Rp396 miliar. Data ini ditelusuri dan dianalisis oleh Cetro Trading Insight untuk pembaca kami.

Bob T Ananta, Wakil Direktur Utama BSI, menegaskan UMKM tetap menjadi fokus utama untuk menguatkan pembiayaan berkelanjutan. Segmen grassroots ini dipandang sebagai potensi besar yang perlu dibina agar bisa naik kelas dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional. Bank terus memperkuat ekosistem UMKM dari hulu hingga hilir.

Lebih lanjut, pernyataan pejabat tersebut menekankan pentingnya integrasi ESG dalam keuangan syariah, mencakup literasi, inovasi produk, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.

UMKM menjadi tulang punggung kebijakan pembiayaan berkelanjutan BSI, dengan penyaluran yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada 2025, pembiayaan UMKM mencapai Rp58,26 triliun, di atas porsi hijau dan kebijakan ESG lainnya. Upaya ini sejalan dengan strategi bank yang menggabungkan layanan perbankan syariah dengan kemudahan akses bagi pelaku usaha kecil.

BSI terus mendampingi UMKM non bankable melalui BSI UMKM Center, sebuah wadah pelatihan dan pendampingan kapasitas usaha. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan daya saing pelaku UMKM, memperluas akses pembiayaan, dan mendorong transformasi digital serta tata kelola risiko yang lebih matang.

Bob menegaskan bahwa peran perbankan syariah penting dalam menjaga kelangsungan pembiayaan UMKM sambil memastikan tata kelola dan manajemen risiko selaras dengan kerangka ESG.

Integrasi antara ESG dan keuangan syariah memerlukan literasi yang lebih luas, inovasi produk yang relevan, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk membangun ekosistem keuangan syariah yang lebih inklusif.

Pembiayaan berkelanjutan telah mencapai 23,18% dari total portofolio, menunjukkan komitmen terhadap ekonomi hijau, sosial, dan UMKM. Instrumen Sustainability Sukuk juga memperkuat pembiayaan berkelanjutan, menambah likuiditas bagi proyek ramah lingkungan.

Dengan landasan kolaboratif antara praktik syariah dan standar ESG, masa depan ekonomi hijau nasional dapat tumbuh lebih cepat melalui kerja sama antara lembaga keuangan, regulator, pelaku UMKM, dan investor, seperti yang dicerminkan dalam laporan ini.

broker terbaik indonesia