CBAM Uni Eropa Mulai 2026: Krakatau Steel dan Industri Baja Nasional Bersiap Hadapi Tantangan Perdagangan Karbon

CBAM Uni Eropa Mulai 2026: Krakatau Steel dan Industri Baja Nasional Bersiap Hadapi Tantangan Perdagangan Karbon

trading sekarang

CBAM Uni Eropa mulai diberlakukan secara bertahap pada Januari 2026, dan dampaknya bisa dirasakan meskipun implementasinya belum sepenuhnya berjalan. Mekanisme ini menilai tingkat emisi karbon yang melekat pada produk baja ketika memasuki pasar Eropa. Bagi baja nasional, hal ini berarti persaingan di pasar ekspor bisa semakin berat, terutama untuk produk bernilai tambah yang sensitif terhadap biaya karbon.

PT Krakatau Steel (KRAS) dan pelaku industri lain menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara upaya dekarbonisasi dan kelangsungan industri. Transisi menuju baja rendah karbon harus didukung kebijakan yang adil dan terukur agar tidak melemahkan basis industri strategis nasional. Para pelaku industri menilai bahwa timing kebijakan sangat menentukan keberhasilan transformasi tanpa mengorbankan ketahanan sektor baja dalam negeri.

Dalam konteks ini, langkah nyata yang direkomendasikan meliputi perlindungan pasar domestik, pengendalian impor, serta peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Kebijakan tersebut sejalan dengan cita-cita Presiden RI untuk memperkuat kemandirian industri dan ketahanan ekonomi nasional. Secara keseluruhan, industri baja Indonesia dinilai perlu menjadi jangkar bagi perekonomian sambil menyesuaikan diri dengan rezim perdagangan berbasiskan karbon.

Analisa biaya karbon terhadap baja bernilai tambah

CBAM bukan hanya soal angka, melainkan mekanisme proteksi permanen yang mengaitkan akses pasar dengan intensitas emisi karbon produk. Mulai 2026 eksportir baja diwajibkan membeli sertifikat CBAM seiring naiknya harga karbon dan penghapusan bertahap izin emisi gratis di Uni Eropa. Analisis ini menilai bahwa dampaknya luas bagi pelaku industri baja Indonesia, terutama pada produk bernilai tambah yang dikemas untuk pasar luar negeri.

Beberapa studi menunjukkan beban CBAM bervariasi tergantung jenis baja. Untuk baja karbon berbasis BF–BOF diperkirakan 40–90 euro per ton, sedangkan stainless steel berbasis RKEF bisa menembus 470–630 euro per ton. Angka-angka ini mencerminkan tekanan biaya yang nyata bagi margin industri dan potensi perubahan pola ekspor ke UE.

Secara umum, beban karbon ini bisa melampaui margin normal dan menurunkan kelayakan ekspor ke UE untuk beberapa segmen. Meski volume ekspor ke Uni Eropa relatif kecil, kontribusi produk semi-finished dan finished noncaptive market mencapai sekitar 18 persen dari total ekspor baja Indonesia pada periode 2024 hingga September 2025. Hal ini menjadikan pasar Eropa sebagai fokus penting bagi sebagian pelaku, termasuk Krakatau Steel Group.

Strategi kebijakan dan peluang domestik

Untuk menjaga daya saing, diperlukan strategi kebijakan yang memastikan perlindungan pasar domestik, pengendalian impor, serta peningkatan penggunaan produksi dalam negeri. Kebijakan semacam ini sejalan dengan upaya nasional menguatkan kemandirian industri dan menjaga stabilitas rantai pasokan baja dalam negeri. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah berharap industri baja nasional tetap tumbuh meski regulasi lingkungan semakin ketat.

Pelaku usaha di segmen ini, seperti Krakatau Steel Group (Krakatau Posco), melihat pasar UE sebagai bagian penting dari portofolio ekspor meski tantangan regulasi meningkat. Mereka menekankan perlunya dukungan kebijakan yang memprioritaskan produksi dalam negeri dan inovasi produk bernilai tambah untuk menjaga daya saing global.

CBAM menjadi faktor kunci yang perlu diperhatikan sejak dini oleh pelaku industri. Analisis di Cetro Trading Insight menekankan bahwa rencana sequencing kebijakan yang tepat akan membantu menjaga daya saing sambil mendorong transisi hijau secara bertahap, dengan fokus pada stabilitas ekonomu nasional dan peluang inovasi industri baja.

broker terbaik indonesia