Pasar saham AS merespon dengan pembalikan arah yang signifikan setelah Presiden Trump meningkatkan retorika mengenai Greenland, termasuk ancaman tarif terhadap sekutu dekat AS. Ketegangan geopolitik memicu sentimen risk-off, mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko dan lebih memilih instrumen yang lebih likuid atau defensif. Dampak kebijakan ini terasa luas, tidak hanya pada perdagangan, tetapi juga pada persepsi validitas kebijakan jangka panjang.
Imbal hasil Treasury meningkat secara menyeluruh, sementara nilai tukar dolar AS melemah sekitar 1% sepanjang sesi. Pergerakan ini mencerminkan penilaian pasar terhadap risiko ekonomi versus risiko politik, dan menyoroti pergeseran prioritas investor dari potensi manfaat tarif menuju ketidakpastian kebijakan jangka panjang. Pada akhirnya, dinamika ini memperkuat tekanan pada valuasi saham berpertumbuhan tinggi.
Indeks utama AS mencatat penurunan yang signifikan: Dow Jones turun sekitar 1,4%, S&P 500 sekitar 1,6%, dan Nasdaq Composite sekitar 1,8%. Volatilitas turut melonjak dengan VIX melewati level 20 untuk pertama kalinya sejak akhir November, menandakan ketidakpastian yang meningkat dan respons pasar terhadap eskalasi kebijakan perdagangan di masa mendatang.
Perlambatan di pasar saham AS memicu pergeseran aliran modal global menuju aset yang dianggap lebih aman. Euro menguat terhadap dolar, sementara obligasi AS menjadi sasaran jual-beli yang intens, menunjukkan keinginan investor untuk melindungi nilai portofolio dalam konteks risiko geopolitik yang membesar. Ketegangan juga memicu spekulasi mengenai langkah balasan dari negara-negara Eropa terhadap tarif yang diuraikan Trump.
Para pelaku pasar menilai bahwa ekuitas sudah discenariokan dengan probabilitas kebijakan yang optimistis, sehingga setiap kejutan kebijakan bisa memicu guncangan lebih lanjut. Kekhawatiran atas arus modal asing jangka panjang juga meningkat jika konflik perdagangan berkepanjangan mengubah dinamika investasi di aset berdenominasi dolar dan utang AS.
Latar belakang ini memperlihatkan tren risk-off secara global: percepatan aliran ke aset pelindung dan penyesuaian eksposur terhadap risiko geopolitik, dengan imbas pada pergerakan mata uang, imbal hasil, dan volatilitas pasar secara luas.
Saham teknologi tetap berada di bawah tekanan meskipun beberapa perusahaan berupaya mempertahankan momentum di tengah ketidakpastian geopolitik. Apple (AAPL) dan Meta (META) tercatat turun sekitar 8% secara year-to-date, sementara Microsoft (MSFT) turun sekitar 6%, menyoroti tekanan pada nama-nama pertumbuhan dengan valuasi tinggi di situasi kebijakan kebijakan yang berubah-ubah.
Dalam sisi lain, saham defensif dan berorientasi nilai menunjukkan ketahanan relatif yang lebih kuat. Walmart (WMT) dan Procter & Gamble (PG) mencapai level tertinggi baru, sementara Allstate (ALL) membukukan keuntungan. Small caps, seperti Russell 2000, kembali menunjukkan daya tahan yang lebih baik dibandingkan beberapa komponen besar, menyiratkan fokus pasar terhadap dinamika ekonomi domestik.
Polemik kebijakan juga bergerak di arena moneter, dengan hampir terpilihnya kandidat Ketua Federal Reserve yang baru menurut pernyataan pejabat ekonomi. Proses nominasi telah menyempit menjadi empat kandidat, menambah katalis makro penting yang perlu dipantau pasar. Keputusan tersebut bisa membawa dampak signifikan terhadap sentimen dan jalur kebijakan suku bunga dalam beberapa minggu mendatang.