Menurut tinjauan terbaru oleh Cetro Trading Insight, pound sterling berada di level sekitar 1.3650 terhadap dolar AS pada sesi Asia, setelah mengalami sedikit rebound sebelumnya. Dinamika politik di Inggris menjadi fokus utama pasar karena tekanan terhadap pemerintahan dalam beberapa hari terakhir. Isu Epstein dan perdebatan mengenai masa jabatan PM membuat risiko politik meningkat dan meningkatkan volatilitas jangka pendek.
Investor menyimak sinyal bahwa ketidakpastian politik bisa memperlambat pergerakan GBP meski data ekonomi lokal menunjukkan beberapa dukungan. Pasar menimbang risiko stabilitas kebijakan fiskal dan potensi reaksi dari langkah politik terhadap suku bunga. Dalam konteks ini, peluang pembalikan arah terlihat tipis jika sentimen risiko tetap negatif.
Secara teknis, pergerakan pound mungkin tertekan jika risiko politik tidak mereda. Namun, jika sentimen risiko membaik atau data ekonomi membaik, GBP bisa mencoba rebound meskipun gaya pergerakannya tetap terbatas untuk saat ini.
Bank of England tampak makin dekat dengan potongan suku bunga berikutnya, dengan proyeksi inflasi yang diperkirakan turun di bawah target 2% pada bulan April. Pasar telah menyesuaikan harga harapan untuk pemangkasan, menempatkan peluang pemotongan lebih awal di garis depan konsensus. Ini menambah tekanan pada sterling saat investor menguji respons kebijakan terhadap dinamika inflasi.
Catatan dari pembuat kebijakan seperti Catherine Mann menunjukkan bahwa faktor eksternal, termasuk tarif AS terhadap China, dapat mendorong harga impor lebih tinggi. Hal ini membuat tekanan inflasi domestik tetap relevan meskipun prospek pelemahan harga secara umum meningkat. Perdebatan kebijakan pun kian kompleks di tengah dinamika global.
Data inflasi dan harga impor akan menjadi kunci bagi BoE dalam memutuskan langkah selanjutnya. Jika laju inflasi tetap rendah, pemotongan bisa dipercepat; jika sebaliknya, BoE bisa menunda atau meninjau ulang jalannya kebijakan. Para pelaku pasar juga memantau rilis data AS sebagai pendorong risiko global yang dapat mempengaruhi GBP.
Laporan penjualan ritel AS Desember menunjukkan stagnasi pada 735 miliar dolar, setelah kenaikan 0,6% pada November dan meleset dari ekspektasi kenaikan 0,4%. Data ini menambah gambaran tentang momentum konsumsi Amerika Serikat menjelang pembacaan pekerjaan utama. Secara tahunan, penjualan ritel naik sekitar 2,4%, sementara penjualan kuartal Oktober-Desember 2025 meningkat sekitar 3,0% dibandingkan periode yang sama sebulan sebelumnya.
Pedagang akan menilai laporan Nonfarm Payrolls (NFP) yang tertunda untuk petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan suku bunga. Konsensus memperkirakan penambahan sekitar 70.000 pekerjaan, dengan tingkat pengangguran terlihat stabil di sekitar 4,4%. Hasilnya bisa memicu perubahan sentimen untuk pasangan GBPUSD tergantung bagaimana data tersebut mempengaruhi ekspektasi The Fed.
Secara implisit, pasar menilai bahwa jika NFP mengecekan atau lebih kuat dari perkiraan, pergeseran imbal hasil obligasi AS dapat memicu pergerakan dolar yang lebih luas. Dalam konteks ini, GBPUSD kemungkinan menampilkan respons yang sensitif terhadap rilis data Amerika, membawa volatilitas pada pasangan mata uang utama tersebut.