Imbal hasil US 10-year turun hampir enam basis poin menjadi sekitar 4.141%, dipicu oleh data ekonomi yang menunjukkan perlambatan permintaan dan tekanan pada tenaga kerja. Pergerakan ini memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan melanjutkan siklus pelonggaran kebijakan. Meski demikian, komunitas pasar tetap menilai risiko kebijakan dan volatilitas tetap terjaga di tengah dinamika data yang saling bertentangan.
Data penjualan ritel AS Desember tidak menunjukkan pertumbuhan, tetap berada pada level nol persen. Sementara itu, Employment Cost Index ECI untuk kuartal terakhir 2025 naik 0.7% secara QoQ, lebih rendah dibandingkan 0.8% pada periode sebelumnya. Kombinasi data ini memperkuat argumen pelonggaran bertahap dan menekankan bahwa tekanan inflasi juga menurun, meski tetap perlu diawasi.
Pasar uang memperkirakan sekitar 58 basis poin pelonggaran melalui CBOT sebelum rilis Nonfarm Payrolls NFP, meskipun pernyataan hawkish beberapa pejabat Fed regional menjadi penahan. DXY berada di sekitar 96.84, sementara ekspektasi inflasi pasar untuk 5 tahun berada di sekitar 2.5% dan Breakeven 10 tahun di 2.35%, menunjukkan optimisme pelonggaran tanpa lonjakan inflasi jangka menengah.
Para ekonom memperkirakan penambahan tenaga kerja sekitar 70 ribu pada bulan Januari, meningkat dari 50 ribu pada Desember. Tingkat pengangguran diproyeksikan tetap di 4.4%. Proyeksi ini menciptakan jalur kebijakan yang lebih kompleks bagi Fed, karena conjungan data kerja yang lemah tetapi tidak terlalu buruk dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran bertahap.
Penurunan permintaan konsumen dan tekanan upah yang lebih lunak menambah dukungan untuk pelonggaran kebijakan. Namun risiko inflasi tetap menjadi fokus, sehingga pasar terus memantau sinyal dari data payrolls untuk menilai arah kebijakan dan dampaknya terhadap imbal hasil obligasi serta mata uang.
Rilis NFP akan menjadi kunci bagi pasar keuangan dalam beberapa minggu ke depan. Investor menimbang apakah data payrolls akan mempercepat atau melambatnya pergeseran kebijakan Fed, dengan potensi perubahan besar pada yield curve dan arus modal global.
Kenaikan harga obligasi negara AS tercermin sebagai respons atas ekspektasi pelonggaran, dengan implikasi pada imbal hasil lebih panjang dan komponen Breakeven inflasi. Investor sekarang menilai arah risiko inflasi dan bagaimana hal ini dapat mempengaruhi alokasi aset menjelang rilis data utama seperti NFP dan indikator inflasi berikutnya.
Dalam konteks ini, fokus investor adalah pada perubahan kurva imbal hasil dan dinamika pasar uang. Skenario volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian mengenai tempo pelonggaran, sementara pernyataan pejabat Fed dan data inflasi akan menjadi pendorong utama pergerakan pasar ke depan.
Secara keseluruhan, narasi pasar menekankan bahwa kebijakan Fed akan sangat tergantung pada evolusi data ekonomi. Rilis pekerjaan, penjualan ritel, dan indikator inflasi akan membentuk jalur kebijakan moneter di bulan-bulan mendatang serta arah imbal hasil obligasi global.