
Analisis menunjukkan bahwa jalur dolar AS dipengaruhi oleh perbedaan suku bunga dan pertumbuhan ekonomi antara AS dan mitranya. Menurut analis Societe Generale, Kit Juckes, imbal hasil US 2-tahun telah melonjak sejak konflik dengan Iran, sedangkan indeks dolar (DXY) hanya bergerak relatif datar. Meski demikian, dolar diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat hingga akhir periode proyeksi, dengan proyeksi DXY akhir 2026 melebihi konsensus Bloomberg.
Hubungan antara imbal hasil 2-tahun dan pergerakan DXY terlihat dalam grafik yang disorot Juckes: lonjakan imbal hasil 2-tahun di Amerika memberi dukungan pada dolar, meskipun kenaikannya terlihat lebih moderat dibandingkan pelaku pasar asing. Perubahan tersebut mencerminkan dinamika pertumbuhan yang kuat di AS dibandingkan mitra globalnya dan mendukung pandangan bahwa dolar bisa melanjutkan tren penguatan jika spread imbal hasil tetap lebar.
Sejak September 2025 hingga pecahnya konflik dengan Iran, imbal hasil 2-tahun tetap berada di sekitar 3,4–3,7 persen meski ekonomi tumbuh kuat. Selama periode yang sama, DXY berkisar di sekitar 96–101 dan EURUSD bergerak di 1,14–1,21. Peristiwa perang mengubah prospek suku bunga: imbal hasil 2-tahun naik lebih tajam dibandingkan negara lain, sehingga dolar bisa menguat meskipun kecepatannya tidak setinggi perubahan imbal hasil itu. Dari sudut pandang tren, pergeseran tersebut menegaskan konsistensi bahwa dolar cenderung menguat jika spread imbal hasil relatif masih mendominasi.
Nilai tukar dolar tampaknya didorong oleh perbedaan kebijakan moneter dan pertumbuhan ekonomi yang makin lebar antara AS dan mitra utama. Dengan imbal hasil US 2-tahun yang melonjak pasca konflik, dolar cenderung diperkuat oleh suku bunga relatif yang lebih menarik. Namun, investor tetap perlu melihat respons pasar terhadap data ekonomi terbaru dan prospek kebijakan bank sentral lain.
Analisis teknikal menunjukkan potensi kelanjutan tren dolar, meskipun pergerakannya bisa tidak seragam di semua pasangan. Ketika yield AS tetap menjadi magnet bagi investor global, volatilitas di EURUSD bisa meningkat terutama saat sesi perdagangan besar atau rilis data penting. Hal itu bisa memicu peluang trading asalkan risiko diatur secara ketat.
Untuk trader yang menargetkan posisi jual EURUSD, rekomendasinya adalah menunggu konfirmasi dari pergerakan harga di kisaran kunci dan menggunakan rasio risiko-imbalan minimal 1:1,5. Instrumen lain juga menyajikan peluang jika pasar menilai implikasi suku bunga AS terhadap kebijakan bank sentral Eropa. Cetro Trading Insight menekankan pemantauan perkembangan geopolitik karena perang baru-baru ini bisa memicu volatilitas mendadak.