Ancaman Presiden Donald Trump untuk menaikkan tarif terhadap negara-negara Eropa terkait Greenland menyoroti ketidakpastian kebijakan perdagangan AS. Ketika negosiasi menuju tenggat Juni, sinyal mengenai pembelian Greenland oleh AS memperbesar risiko sengketa perdagangan berlarut-larut. Kondisi ini menegaskan bahwa tidak ada kepastian tarif di bawah pemerintahan AS saat ini.
Sambil dolar tampak stabil secara umum, defisit neraca transaksi berjalan AS yang besar membuat mata uang itu rentan terhadap kelemahan jika aliran modal melambat di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan. Menurut Thu Lan Nguyen, Kepala Riset FX dan Komoditas di Commerzbank, kondisi tersebut meningkatkan risiko tekanan pada dolar. Analisisnya menekankan bagaimana perubahan arus modal bisa mempercepat pergerakan dolar jika dinamika tarif tidak jelas.
Meskipun demikian, satu-satunya sinar harapan bagi dolar adalah bahwa tarif tetap menjadi alat negosiasi utama dan dampak ekonominya sejauh ini relatif terbatas. Pasar masih menguji respons kebijakan dan mengantisipasi perubahan tarif di masa mendatang. Dengan demikian, arah jangka pendek dolar tetap berada dalam ketidakpastian yang tinggi.
Dinamika ini memperbarui risiko bagi pasangan mata uang utama, terutama EURUSD, karena harga dipengaruhi oleh perubahan kebijakan tarif AS terhadap Eropa. Ketegangan dagang antara dua pihak meningkatkan volatilitas pasar valuta asing dan meningkatkan fokus terhadap aliran modal. Banyak analis menilai bahwa hubungan perdagangan bisa menjadi penentu utama arah pergerakan EURUSD.
Saat eskalasi perdagangan berlanjut, banyak investor memperkirakan euro bisa melemah jika Eropa terdampak lebih berat secara ekonomi. Tekanan ekspor-impor dan kondisi fiskal kawasan euro dapat menekan euro terhadap dolar. Namun, pandangan pasar tetap beragam tergantung pada respons kebijakan fiskal dan langkah moneter yang diambil bank sentral.
Di sisi lain, dinamika investasi teknologi dan AI asal AS dianggap memberi dukungan bagi dolar meski risiko perdagangan tinggi. Pertumbuhan terkait AI yang kuat bisa mendorong prospek ekonomi AS dan menjaga daya tarik dolar secara umum. Secara keseluruhan, volatilitas pasar diperkirakan meningkat meski arah jangka pendek tidak jelas.
Neraca berjalan AS yang besar membiayai defisit melalui arus modal masuk. Ketergantungan pada investor asing membuat dolar rentan jika arus modal berbalik arah. Dalam konteks ketegangan perdagangan, perubahan aliran modal bisa terjadi lebih cepat daripada perubahan kebijakan fiskal.
Jika investor mulai menilai posisi dolar sebagai risiko bagi cadangan global, arus modal bisa menurun. Kondisi seperti itu bisa memperlemah dolar lebih lanjut dan meningkatkan volatilitas pasar. Para analis menekankan pentingnya memantau dinamika arus modal sebagai indikator utama arah pergerakan dolar.
Dalam skenario terburuk, aliran keluar modal bisa memaksa penyesuaian besar pada neraca transaksi berjalan AS. Respons kebijakan moneter dan fiskal yang tepat diperlukan untuk menjaga stabilitas mata uang. Risiko jangka panjang menunjukkan bahwa sinyal perdagangan tetap kompleks dan arah jangka pendek tidak mudah diprediksi.