Dolar Mulai Lemah di Awal Pekan: Kebijakan Perdagangan AS dan Risiko Geopolitik Iran sebagai Penentu Pasar FX

Dolar Mulai Lemah di Awal Pekan: Kebijakan Perdagangan AS dan Risiko Geopolitik Iran sebagai Penentu Pasar FX

trading sekarang

Menurut analisis dari ING, dolar mulai melemah di pembukaan pekan seiring investor menimbang kebijakan perdagangan AS dan risiko geopolitik terkait Iran. Mereka menyoroti perubahan besar berupa surcharge impor sebesar 15% yang diatur melalui Section 122, menggantikan kerangka tarif di bawah IEEPA. Perubahan ini diproyeksikan memicu penyesuaian aliran perdagangan global di beberapa mitra utama, meski dampaknya masih bergantung pada bagaimana pasar menilai prospek fiskal AS. Dolar diharapkan bergerak dalam rentang terbatas sembari investor menilai kelanjutan kebijakan tersebut.

Kebijakan tersebut diperkirakan memberikan keuntungan tarif yang berbeda bagi negara mitra. China dan Brasil bisa mendapatkan tarif lebih rendah, sementara Inggris dan Australia mungkin kehilangan manfaat 10% yang sebelumnya dinegosiasikan. Dampak ini menambah kerumitan kalkulasi risiko bagi perusahaan multinasional dan portofolio investor yang mengandalkan arus perdagangan yang stabil. Pasar juga mempertimbangkan dampaknya terhadap obligasi, saham, dan nilai tukar secara simultan.

Dalam konteks pergerakan mata uang, analis memperkirakan DXY bisa melemah menuju kisaran 97.00-98.00. Rilis pernyataan Federal Reserve serta data-data AS akan menjadi pendorong utama pergerakan selanjutnya, sehingga trader disarankan menunggu konfirmasi dari data tersebut. Secara umum, volatilitas dapat meningkat jika ada kejutan pada kebijakan moneter atau pernyataan pejabat kunci Fed, atau jika risiko geopolitik berubah.

Libur di Asia membuat aksi US Treasuries relatif sepi, sehingga fokus pasar FX akan menimbang pergerakan imbal hasil dan aliran modal. Banyak pelaku pasar memperkirakan potensi pelemahan serentak pada Treasuries, ekuitas, dan dolar jika investor mulai meragukan fondasi kebijakan ekonomi Washington. Risiko ini menambah kerumitan volatilitas di pasar mata uang dalam minggu ini.

Untuk hari ini, perhatian utama adalah pidato Christopher Waller dari Federal Reserve pada pukul 14:00 CET. Waller dikenal cenderung dovish dan pernah mendukung pemotongan 25bp di Januari. Pasar mengharapkan penegasan sikap kehati-hatian yang bisa memperdalam ekspektasi pemotongan suku bunga sebagai langkah proaktif menghadapi risiko pelambatan tenaga kerja.

Lebih lanjut, pernyataan kurang dovish bisa memberi dukungan pada dolar karena pengaruh pejabat Fed terhadap jalannya kebijakan. Namun, risiko militer terkait Iran juga menjadi faktor yang menjaga momentum jual besar pada dolar. Secara umum, kondisi pasar tampak menahan diri sambil menantikan petunjuk selanjutnya dari pejabat kebijakan.

Dengan latar belakang dolar yang cenderung lebih lemah, pasangan utama seperti EURUSD bisa mendapatkan dukungan teknikal. Namun, pelaku pasar perlu berhati-hati karena perubahan kebijakan perdagangan AS bisa mengubah arus modal secara mendasar. Risiko geopolitik terkait Iran menambah ketidakpastian, sehingga momentum jangka pendek cenderung sideways dengan peluang breakout bergantung pada data dan pernyataan bank sentral.

Saat ini, sinyal perdagangan tidak cukup jelas untuk instrumen tertentu berdasarkan informasi yang ada. Peluang risiko-imbalan dapat muncul jika ada pergerakan breakout di atas rentang sebelumnya atau jika data makro mengejutkan. Disarankan para investor menunggu konfirmasi sebelum membuka posisi untuk menjaga rasio risiko/imbalan minimal 1:1,5.

Secara keseluruhan, laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami bagaimana kebijakan perdagangan AS dan risiko geopolitik membentuk dinamika dolar serta pasangan matauang utama. Tim kami akan terus memantau pernyataan pejabat Fed dan perkembangan di pasar obligasi sebagai indikator arah berikutnya. Untuk pembaruan analisis dan rekomendasi lebih lanjut, ikuti publikasi kami secara rutin.

broker terbaik indonesia