Dolar AS masih berada di pusat pergerakan pasar karena volatilitas minyak mentah, terutama Brent yang dipicu berita tentang ketegangan di Timur Tengah dan kemungkinan rilis cadangan minyak oleh IEA. Pergerakan harga minyak memegang kendali atas arah dolar karena investor mengevaluasi dampak kebijakan energi terhadap likuiditas dan risiko global. Penilaian ini membuat investor menakar potensi penurunan dolar dalam beberapa hari mendatang.
Rencana rilis cadangan minyak dinilai sebagai solusi sementara, bukan obat untuk tren jangka panjang. Sinyal yang bertentangan tentang deeskalasi militer dan data CPI AS bisa menjaga dolar dari penurunan lebih dalam pada hari-hari mendatang. Para pelaku pasar terus memantau bagaimana berita-berita ini saling mempengaruhi satu sama lain.
Besarnya ukuran cadangan yang diusulkan akan menentukan seberapa besar pembatasan terhadap pergerakan harga minyak. Meskipun langkah cadangan ini menahan minyak untuk sementara, faktor utama untuk menekan harga minyak secara berkelanjutan adalah kemajuan deeskalasi militer. Indikasi dari laporan IEA juga bisa mengirimkan sinyal pasar bahwa harapan gencatan belum ada. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.
Obligasi dan ekuitas juga mengikuti pergerakan minyak, sehingga menjadi tantangan untuk mencari sudut pandang alternatif terhadap dolar. Pergerakan minyak menambah dinamika risiko yang pada akhirnya tercermin pada imbal hasil dan harga saham global. Kondisi seperti ini menempatkan dolar dalam posisi hati-hati karena sinyal pasar menjadi lebih kompleks.
Volatilitas di pasar valuta asing sejauh ini tidak menunjukkan peningkatan yang berlebihan, meskipun reli harga saham dan risiko sektor berisiko tinggi tetap menjadi penopang volatilitas. Ketahanan ekuitas global berfungsi sebagai jangkar bagi mata uang berisiko, sehingga kenaikan dolar bisa dibatasi jika indeks saham tetap kuat. Secara umum, prospek dolar terlihat lebih stabil daripada bergerak tajam ke arah bawah atau atas.
Data CPI Februari yang akan dirilis menjadi kunci. Analis memperkirakan core CPI sekitar 0.3% secara bulanan, sedikit di atas konsensus 0.2%. Walau begitu, dampak langsungnya terhadap imbal hasil bisa terkendali jika pergerakan minyak tetap menjadi faktor dominan dalam beberapa hari ke depan.
Data CPI Februari sangat dinantikan karena dapat mempengaruhi langkah kebijakan moneter AS dan arah mata uang utama. Jika core CPI terealisasi 0.3% MoM, tekanan terhadap obligasi AS bisa meningkat karena ekspektasi inflasi inti membaik. Namun, pasar menilai bahwa sinyal minyak dan gejolak geopolitik dapat membatasi gerak dolar ke bawah secara tajam.
Investor juga memantau bagaimana respons pasar terhadap berita deeskalasi di Timur Tengah. Kejelasan mengenai rencana pengurangan konflik militer akan menjadi sinyal penting bagi trader dolar dan minyak. Sementara itu, potensi volatilitas bisa meningkat jika CPI menyimpang dari ekspektasi dan memicu reaksi pada pasar obligasi.
Secara keseluruhan, narasi pasar saat ini bersifat campuran: tanpa kemajuan nyata di bidang militer, penurunan dolar bisa terbatas meskipun inflasi inti menunjuk ke arah yang lebih tinggi. Karena itu, tidak ada sinyal jelas untuk beli maupun jual dalam laporan ini; pedoman risiko-reward tetap dianjurkan jika peluang trading muncul.