USD mengalami penurunan tajam setelah berita bahwa The Fed meminta bank-bank di New York menilai ukuran posisi mereka dalam USD, memicu spekulasi bahwa AS mungkin menjalin kerja sama dengan Jepang untuk melemahkan Yen. Ketakutan akan intervensi yen memicu aksi jual terhadap dolar yang sebelumnya menjadi penopang utama likuiditas pasar. Kondisi ini menambah tekanan pada indeks dolar, sekaligus menambah volatilitas pada pasar mata uang utama.
The Fed diperkirakan akan mengumumkan keputusan suku bunga pada hari Rabu, dengan kisaran saat ini berada di 3,50%–3,75%. Ini menjadi salah satu pertemuan terakhir di bawah kepemimpinan Jerome Powell, sambil pasar menunggu keputusan Ketua Fed berikutnya yang belum tentu menyeimbangkan risiko lapangan. Ketidakpastian kebijakan juga diwarnai dinamika politik dalam negeri yang mempengaruhi ekspektasi pasar terhadap jalur kebijakan moneter.
Indeks Dolar AS (DXY) turun mendekati level 97,00, menyentuh level terendah sejak September 2025. Pergerakan ini terjadi meskipun komentar kasual pimpinan politik dan kebijakan ekonomi global mempertajam sentimen risk-off dan risk-on di segmen berbeda. Kondisi pasar membuat para pelaku mencoba meramalkan arah jangka pendek terkait rilis data utama dan potensi koordinasi kebijakan antara negara besar.
EUR/USD bergerak di sekitar zona 1,1880, didorong oleh pelemahan USD meskipun data zona euro relatif lebih lemah dari ekspektasi pasar. Pergerakan ini mengindikasikan bahwa pelaku pasar menimbang risiko ketidakpastian kebijakan moneter AS dan dampaknya terhadap arus investasi. Skenario ini mendorong beberapa pelaku untuk mencari peluang di pasangan utama lain yang lebih sensitif terhadap perubahan uang AS.
GBP/USD sekitar 1,3690 karena USD yang melemah mendorong pasangan tersebut naik, sementara USD/CAD berada di sekitar 1,3700 menunggu keputusan suku bunga The Fed dan BoC pada hari Rabu. Kondisi ini mencerminkan tekanan di pasar mata uang terkait pergeseran ekspektasi kebijakan dan perubahan arus modal lintas pasar. Investor juga mencermati data IFO Jerman January yang menunjukkan iklim bisnis yang tetap lemah di 87,6.
AUD/USD tetap kuat di atas 0,6930, didukung oleh reli harga komoditas dan permintaan terhadap dolar komoditas. Emas melanjutkan tren kenaikan, melampaui zona 5.000 dan mendekati rekor tertinggi sekitar 5.111, didorong oleh gejolak geopolitik yang memicu permintaan safe-haven. Secara keseluruhan, pasar menilai bahwa kebijakan moneter AS hingga kini belum menunjukkan respons yang pasti terhadap tekanan eksternal.
Emas menembus zona harga di atas 5.000 dan kini mendekati rekor tertinggi sekitar 5.111 dolar per ounce, didorong oleh ketegangan geopolitik dan preferensi investor terhadap aset safe-haven. Kenaikan ini memperlihatkan bagaimana sentimen risiko bisa memicu pergeseran modal besar ke emas. Pasar tetap memperhatikan dinamika konflik Greenland/Eropa-AS yang menambah volatilitas harga komoditas dan mata uang komoditas.
USD/JPY menyentuh sekitar 154,00, mendekati rendah multi-bulan seiring dengan pernyataan PM Jepang yang menegaskan adanya langkah-langkah untuk mengatasi pergerakan pasar yang spekulatif. Ketentuan intervensi pemerintah Jepang diperkirakan akan diperkuat seiring dengan tekanan terhadap yen. Sementara itu, AUD/USD yang terkait komoditas tetap kuat, memberi dukungan pada mata uang terkait komoditas sambil memperhatikan respons kebijakan moneter global.
Agenda pasar menyisakan beberapa fokus utama: pada hari Rabu, keputusan Suku Bunga BoC diperkirakan tetap di 2,25%; CPI Kuartalan Australia juga dirilis. Pertemuan FOMC AS dimulai, dengan rilis data Pesanan Barang Tahan Lama dan Klaim Tunjangan Pengangguran sebagai gambaran awal. Pada Kamis, investor akan memperhatikan klaim pengangguran, pendapatan pribadi, dan deflator PCE; Jumat, fokus beralih ke PDB Zona Euro, PDB Jerman, dan CPI Tokyo sebagai penutup minggu perdagangan.