Dow Jones Anjlok 555 Poin, Rotasi Sektor Menuju Siklik Menjelang CPI

Dow Jones Anjlok 555 Poin, Rotasi Sektor Menuju Siklik Menjelang CPI

trading sekarang

Dow Jones Industrial Average turun lebih dari 555 poin pada sesi Kamis, menandai penurunan yang luas di pasar saham AS. Indeks utama menurun sekitar 1,1 persen, sementara S&P 500 turun 1,2 persen dan Nasdaq Composite memimpin keruguran dengan penurunan 1,7 persen. Pergerakan turun dipicu pola rotasi investor dari saham teknologi menuju sektor-sektor yang lebih siklikal dan berorientasi siklus bisnis. Cetro Trading Insight memantau dinamika ini karena sinyalnya bisa memengaruhi arah pasar jelang data inflasi yang akan dirilis akhir pekan.

Penurunan teknologinya sangat terasa, dengan saham unggulan kelompok Magnificent Seven seperti Apple dan Amazon turun sekitar 3 persen pada perdagangan tersebut. Tekanan turun tidak terbatas pada perusahaan raksasa saja; saham software dan saham terkait AI juga tertekan mengingat kekhawatiran bahwa kemajuan AI bisa memperketat persaingan dan menekan margin. Investor lebih memilih menjauh dari area pertumbuhan yang rentan terhadap perubahan kebijakan harga, sambil mengalihkan modal ke saham yang lebih berorientasi siklik seperti ritel dan manufaktur.

Beberapa saham lain turut bergerak berlawanan arah. AppLovin turun lebih dari 4 persen meskipun laporan hasil keuangan kuartal empat yang dilaporkan mengalahkan ekspektasi di kedua lini atas dan bawah. Cisco Systems juga melemah sekitar 7 persen setelah proyeksi margin bruto kuartal kedua menimbulkan kekhawatiran, meskipun pendapatan dan pendapatan per saham disertai lebih baik dari konsensus. Sementara itu, McDonald’s menunjukkan kinerja yang lebih kokoh lewat pertumbuhan penjualan sebanding AS sebesar 6,8 persen, namun sahamnya tetap terganjal suasana risk-off.

Data perumahan terbaru menunjukkan Existing Home Sales turun 8,4 persen secara bulanan pada Januari menjadi laju tahunan 3,91 juta unit, mencerminkan pelemahan terbesar dalam hampir empat tahun. Penurunan terjadi di semua empat wilayah, dengan Barat dan Selatan mengalami penurunan paling tajam, sedangkan median harga rumah nasional naik 0,9 persen YoY menjadi $396,800. Para ekonom mencatat bahwa cuaca ekstrem musim dingin bisa menjadi faktor sementara, namun gambaran inti data menjadi sulit diminati karena kondisi pasar yang tidak biasa.

Riset inflasi menjelang laporan CPI bulan Januari menahan bahwa ekspektasi pasar terkait potongan suku bunga berkurang; data Nonfarm Payrolls Januari lebih kuat dari perkiraan dengan penambahan 130 ribu pekerjaan dibandingkan proyeksi 55 ribu. Implikasi dari data tenaga kerja ini mendorong yields obligasi menuju lonjakan kecil dan memicu investor untuk memangkas ekspektasi pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Pasar kini mengalihkan fokus pada rilis CPI hari Jumat untuk menentukan arah kebijakan moneter dan dampak terhadap ekuitas.

Di sisi lain, klaim pengangguran awal minggu yang berakhir 7 Februari mencapai 227 ribu, melampaui konsensus 222 ribu, meskipun jumlah klaim berkelanjutan turun sedikit menjadi 1,862 juta. Data ini menambah gambaran bahwa pasar tenaga kerja tetap ketat meskipun ada tekanan inflasi dan volatilitas harga. Para analis menilai bahwa variasi di antara indikator-indikator ekonomi membuat pembacaan tren menjadi lebih kompleks, menuntut kehati-hatian lebih lanjut sebelum mengambil keputusan investasi.

Kedepannya, fokus utama pasar adalah rilis CPI untuk Januari, yang diperkirakan menunjukkan perlambatan inflasi secara tahunan menjadi sekitar 2,5 persen. Skenario ini berpotensi memulihkan harapan bahwa The Fed dapat menjalankan sikap kebijakan yang lebih longgar lebih awal, meskipun sinyal inflasi yang lebih kuat dapat menekan ekspektasi tersebut. Kondisi ini datang di tengah pergerakan teknikal yang menunjukkan pelemahan sektor teknologi dan pergeseran modal ke area siklikal, menambah nuansa risiko bagi ekuitas.

Pergerakan kurs dan imbal hasil obligasi juga menambah tekanan pada pasar, karena ekspektasi pemotongan suku bunga untuk 2026 berkurang setelah data NFP yang lebih kuat dari perkiraan. Banyak investor menilai bahwa dinamika AI dan penurunan margin di sektor teknologi menambah risiko untuk pertumbuhan pendapatan perusahaan-perusahaan besar. Dalam konteks ini, investor disarankan memperhatikan sinyal fundamental lain seperti permintaan konsumen, inventori, dan momentum produksi yang bisa membentuk arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Bagi para trader, opsi yang ada adalah menunggu konfirmasi dari data CPI untuk mengatur posisi; tanpa sinyal jelas dari data fundamental yang kuat, disarankan untuk menghindari posisi besar pada indeks utama. Bila ekuitas akhirnya rebound, level-level teknikal seperti angka-angka pendukung historis bisa menjadi panduan, namun tetap dibutuhkan manajemen risiko yang ketat. Rencana trading yang bijak sejalan dengan prinsip kehati-hatian: diversifikasi, batas risiko, dan fokus pada lonjakan volatilitas yang mungkin terjadi menjelang rilis data penting.

broker terbaik indonesia