Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited secara resmi mengumumkan rencana mengambil alih mayoritas saham PT Berkah Prima Perkasa Tbk, yang terdaftar sebagai BLUE. Pengumuman ini disampaikan melalui keterbukaan informasi pada Kamis, 19 Februari 2026. Menurut analisis oleh Cetro Trading Insight, langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam tata kelola perusahaan dan potensi sinergi di masa mendatang.
Dalam keterangannya, Dragonmine menyebutkan telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Bersyarat pada 18 Februari 2026 dengan pemegang saham eksisting, yakni Herman Tansri, Siek Agung Guntoro, Fajar Tasrif, Rudy Tasrif, serta PT Cetak Biru Kapital. Perjanjian ini menjadi pijakan utama untuk rencana akuisisi yang berpotensi mengubah kendali perseroan.
Rencana akuisisi mencakup akuisisi sebanyak 334.400.000 saham atau sekitar 80 persen dari seluruh saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh. Dengan porsi tersebut, Dragonmine diproyeksikan menjadi pemegang saham pengendali BLUE dan mengarahkan arah kebijakan perusahaan ke depan.
Sejalan dengan regulasi pasar modal, jika rencana akuisisi rampung, Dragonmine wajib melakukan tender terbatas kepada pemegang saham publik melalui penawaran tender wajib atau tender offer sesuai POJK No 9/POJK.04/2018 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka. Ketentuan ini memastikan hak pemegang saham publik tetap terjaga meski ada perubahan kendali.
Dragonmine Mining (Hong Kong) Limited berkedudukan di Harcourt Road, Central, Hong Kong, dengan fokus usaha meliputi investasi, pengelolaan investasi, serta jasa advisory. Manajemen menyatakan bahwa jika proses akuisisi berhasil, BLUE akan menjadi anak perusahaan dalam kelompok usaha Dragonmine, menambah dimensi operasi lintas negara.
Hingga 19 Februari 2026, pasar merespon dengan gerak harga BLUE, di mana saham terkoreksi tipis 0,74 persen ke Rp6.700 setelah sehari sebelumnya naik 5,06 persen. Secara bulanan, BLUE menguat 32,02 persen, dan dalam tiga bulan terakhir melonjak 109,38 persen, mencerminkan respons investor terhadap berita inti akuisisi dan potensi sinergi di masa depan.
Analisis teknikal dan fundamental menunjukkan dinamika harga yang dipengaruhi oleh berita kepemilikan. Meski akuisisi ini berpotensi membawa perubahan strategis, pembaca perlu memahami bahwa proses regulasi dan penyelesaian persyaratan bersifat kompleks dan bisa mempengaruhi kinerja saham BLUE dalam jangka menengah.
Investor disarankan memantau pengumuman lanjutan terkait penyelesaian transaksi, mekanisme tender, serta perkembangan regulasi pasar modal yang relevan. Kondisi ini menambah lapisan risiko dan peluang bagi pemegang saham, tergantung bagaimana syarat-syarat akuisisi dipenuhi dan bagaimana manajemen BLUE merespons perubahan kendali.
Secara saat ini, rekomendasi trading belum dapat ditarik karena data yang tersedia tidak cukup untuk menilai arah pergerakan harga secara pasti. Investor dianjurkan menjaga diversifikasi portofolio, memahami hak-hak pemegang saham publik, serta mengikuti pembaruan resmi dari BLUE dan pihak regulator untuk informasi lebih lanjut.