Indeks dolar AS (DXY) menunjukkan tekanan turun selama sesi Asia, berada di sekitar 96,65 saat ini. Penilaian ini muncul menjelang rilis data pekerjaan AS yang tertunda dan menjadi fokus utama pasar. Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk menilai dinamika dolar dan risiko bagi trader institusional.
Penjualan ritel AS Desember tidak berubah, sebesar 735 miliar dolar, mengurangi harapan atas peningkatan bulanan. Data ini membuat pasar mengubah ekspektasi mengenai arah suku bunga The Fed dan memperlemah argumen penguatan dolar. Secara tahunan, penjualan ritel Desember naik 2,4%, tetapi pertumbuhan itu tidak cukup untuk menahan tekanan pada DXY.
Para pelaku pasar menunggu rilis laporan pekerjaan bulan Januari yang ditunda, dianggap sebagai penentu arah kebijakan moneter AS. Indikator tenaga kerja yang membaik atau memburuk bisa mengubah jalur suku bunga dan likuiditas dolar di pasar global. Hasilnya akan mempengaruhi sentimen risiko dan pergerakan dolar dalam beberapa hari ke depan.
Analyst memperkirakan Nonfarm Payrolls Januari naik sekitar 70.000 pekerjaan. Namun pasar menyadari bahwa angka aktual bisa berbeda secara signifikan dari perkiraan. Hasilnya akan menentukan arah imbas terhadap dolar menjelang rilis laporan.
Unemployment rate diperkirakan tetap di 4,4 persen, menunjukkan stabilitas pasar tenaga kerja meskipun sinyal pertumbuhan melambat. Sinyal ini menjaga volatilitas pasar tetap terkendali namun tetap ada risiko pergeseran kebijakan. Kestabilan ini memberi ruang bagi para investor untuk menilai prospek pelonggaran kebijakan.
Klaim ekonomi dari Truist Advisory Services menekankan bahwa pasar menginginkan konfirmasi bahwa pertumbuhan melambat cukup untuk mendorong pelonggaran, tanpa menimbulkan risiko terlalu agresif. Komentar tersebut menyoroti keseimbangan antara menjaga inflasi tetap terkendali dan menyediakan dukungan bagi pertumbuhan. Dengan begitu, sentimen dolar bisa tetap rapuh jika data pekerjaan dan inflasi menguatkan ekspektasi pelonggaran.
Dinamika data ekonomi memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve bisa menilai pelonggaran kebijakan jika pertumbuhan tetap melambat. Pasar menilai bahwa langkah pelonggaran mungkin diperlukan untuk menjaga momentum ekonomi. Efeknya, dolar berpotensi melemah lebih lanjut.
Penurunan DXY bisa berlanjut jika laporan pekerjaan tidak menunjukkan perbaikan signifikan, meski data inflasi juga menjadi faktor penentu. Investor akan menimbang potensi insentif kebijakan baru berdasarkan kedua data tersebut. Kepastian arah kebijakan membuat eksekusi posisi menjadi lebih ringan jika peluang pelonggaran meningkat.
Para pelaku pasar terus mencari konfirmasi bahwa pertumbuhan melambat cukup untuk mendukung pelonggaran tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi. Kunci utamanya adalah menjaga keseimbangan antara risiko inflasi dan pertumbuhan yang moderat. Laporan pekerjaan dan inflasi berikutnya akan menjadi momen penting bagi strategi portofolio segera.