Menurut analisis dari Cetro Trading Insight, dolar AS mendapatkan dukungan dari kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil obligasi global yang lebih tinggi. Kondisi ini mendorong DXY untuk tetap kuat terhadap sebagian besar mata uang utama. Saat ini Brent diperdagangkan sekitar $104 per barel, mendekati level tertinggi beberapa waktu terakhir.
Pergerakan imbal hasil yang lebih tinggi memperkukuh daya tarik aset berdenominasi dolar di pasar global. Investor menimbang ekspektasi kebijakan moneter di berbagai negara dan bagaimana perbedaan suku bunga dapat membentuk arus modal. Secara keseluruhan, dolar cenderung menguat terhadap mata uang utama meskipun volatilitas energi tetap menjadi faktor.
Namun Haddad menyatakan bahwa fase terburuk dari gangguan energi mungkin telah berlalu, karena beberapa faktor geopolitik mulai mereda. Penundaan atau penyelesaian konflik di wilayah terkait dapat menambah stabilitas harga minyak. Terlebih lagi, langkah AS untuk memperpanjang gencatan senjata dan pendekatan navigasi di Selat Hormuz bisa mendorong pemulihan jalur perdagangan utama serta mengurangi tekanan pada pasar keuangan.
Ketegangan geopolitik di sekitar Iran memengaruhi pasokan energi secara berkelanjutan. Brent berada sekitar 104 dolar per barel, menandai tetap tingginya harga energi meski belum menyentuh puncak tingkat tertinggi sebelumnya. Kondisi ini menjaga volatilitas pasar energi tetap relevan bagi pergerakan aset global.
Lonjakan harga minyak mendorong ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral, sehingga imbal hasil obligasi global kembali terdorong naik. Investor menilai bahwa biaya pembiayaan bisa meningkat dan arus modal bakal mengalir ke aset yang dianggap lebih tahan terhadap inflasi. Di sisi lain, dolar AS tetap menunjukkan kekuatan terhadap banyak pasangan mata uang.
DXY akhirnya berada dalam kisaran 96 hingga 100, sejalan dengan pandangan bahwa tekanan energi tidak lagi mendorong gerak dolar secara ekstrem. Para pelaku pasar memantau bagaimana jalur navigasi di Selat Hormuz bisa membuka kembali rute perdagangan penting. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang mendukung diversifikasi portofolio sambil menjaga likuiditas dolar.
BBH menilai bahwa perbedaan suku bunga antara AS dan ekonomi besar lainnya kemungkinan menjaga DXY di kisaran tersebut untuk beberapa waktu ke depan. Hal ini menambah keyakinan bahwa volatilitas jangka pendek mungkin terbatas meskipun dinamika energi tetap menjadi fokus utama. Investor dianjurkan menilai keseimbangan antara risiko energi dan kebijakan moneter saat menata portofolio.
Perubahan harga minyak dan inflasi yang terkait dapat mempengaruhi prospek aset berisiko, sehingga alokasi aset perlu disesuaikan secara hati-hati. Ketahanan ekonomi dan fleksibilitas portofolio menjadi kunci untuk menghadapi peluang maupun risiko. Dalam konteks ini, investor diimbau menggunakan kombinasi analisis fundamental dan indikator teknikal untuk menilai peluang trading.
Pembaca disarankan berhati-hati dalam mengambil posisi karena sinyal yang tidak jelas. Rasio risiko-imbalan direkomendasikan minimal 1 untuk 1,5, dan bila sinyal tidak jelas sebaiknya hindari entri. Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika energi dan kebijakan moneter akan membentuk arah dolar dan memberikan sinyal lebih jelas di masa mendatang.