ECB mencatat kerugian sebesar 1,25 miliar euro pada 2025, menandai kerugian tahunan ketiga berturut-turut. Meskipun jumlahnya tidak sebesar rekor 7,9 miliar euro pada 2024, angka ini tetap menjadi sinyal penting tentang biaya kebijakan moneter yang normalisasi. Analisis ini disajikan oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami konteksnya.
Kenaikan suku bunga yang agresif untuk menekan inflasi akibat perang antara Rusia dan Ukraina meningkatkan biaya pinjaman bagi rumah tangga maupun perusahaan di 21 negara zona euro, sambil membebani neraca ECB. Dampaknya terasa pada biaya pembiayaan pemerintah, kredit konsumen, dan laba nol-nilai neraca bank sentral yang menjadi fokus pasar. Kondisi ini juga membuat pergeseran kebijakan lebih dinamis karena bank sentral harus menjaga kredibilitas inflasi.
Sebelum memulai siklus kenaikan suku bunga pada 2022, ECB mempertahankan suku bunga pada level rendah selama bertahun-tahun. Kerugian sejak 2022 terjadi setelah bertahun-tahun memperoleh keuntungan besar dan merupakan efek dari kebijakan yang diperlukan untuk memerangi inflasi, kata ECB. Kebijakan ini dirancang untuk memastikan inflasi kembali ke target 2% dalam jangka menengah, meski konsekuensinya terhadap neraca berbeda antara tahun ke tahun.
Inflasi di zona euro kini turun secara signifikan dan berada di bawah target dua persen ECB bulan lalu, mengurangi tekanan terhadap bank sentral untuk menarik lebih banyak langkah kenaikan. Kondisi ini memberi ruang bagi ECB untuk menilai langkah selanjutnya tanpa risiko kehilangan kredibilitas. Analis meyakini bahwa dinamika inflasi yang lebih tenang mendukung prospek laba jangka menengah selama kebijakan berjalan.
ECB telah mulai menurunkan suku bunga sejak pertengahan 2024, meskipun dampaknya baru terlihat seiring waktu. Pengurangan biaya pembiayaan tidak langsung terlihat dalam laporan laba-rugi secara langsung, karena efeknya merambat ke biaya pinjaman rumah tangga dan perusahaan secara bertahap. Para pelaku pasar tetap memantau sinyal dari manajemen ECB mengenai kecepatan pelonggaran atau pengetatan lebih lanjut.
ECB memperkirakan diri untuk kembali mencetak laba pada tahun ini atau tahun depan, meski jalannya masih tergantung pada perkembangan inflasi, pertumbuhan, dan stabilitas keuangan. Proyeksi ini disampaikan dengan kehati-hatian mengingat volatilitas pasar dan dinamika geopolitik yang belum mereda. Investor perlu memantau data inflasi, kinerja sektor riil, dan perubahan prospek kebijakan untuk menilai risiko bagi aset berdena negara zona euro.
Penurunan inflasi dan rencana normalisasi kebijakan tidak otomatis mengubah arah euro secara drastis, namun mempengaruhi pandangan investor terhadap stabilitas moneter. Risiko bagi investor adalah volatilitas jangka pendek yang bisa meningkat saat pasar merespons laporan keuangan ECB. Dalam konteks ini, keterbukaan berita dan arahan ECB menjadi kunci untuk menakar peluang dan risiko pasar.
Nilai euro dapat bereaksi terhadap perbaikan data inflasi, prospek pertumbuhan, serta komentar pejabat ECB mengenai jalur kebijakan ke depan. Investor cenderung menimbang bagaimana perubahan suku bunga mempengaruhi imbal hasil obligasi negara dan biaya pembiayaan korporasi. Pergerakan pasar juga bisa dipengaruhi oleh perubahan dispersion antara rencana kebijakan dan realisasi ekonominya.
Yang perlu diamati oleh investor adalah data inflasi zona euro, keputusan pertemuan kebijakan ECB, dan ulasan komentar pejabat terkait jalur kebijakan. Dalam pandangan Cetro Trading Insight, kehati-hatian diperlukan karena dinamika ekonomi masih rapuh dan panduan kebijakan bisa berubah seiring data yang masuk. Tetap ikuti rilis data ekonomi dan analisa ahli untuk menilai peluang dan risiko secara tepat.