OCBC menyatakan bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga ECB belum cukup untuk mengamankan euro. Mereka menekankan bahwa stagflasi yang didorong energi menekan imbal hasil riil dan memperburuk neraca eksternal zona euro. Dalam konteks ini, fokus investor lebih pada real return daripada kenaikan suku bunga semata.
Mereka menilai EURUSD saat ini berada dalam posisi netral hingga ada bukti deeskalasi risiko di Timur Tengah. Skenario downside mencakup EURUSD turun ke kisaran 1.13-1.12 dan bahkan 1.10 jika Brent melonjak. Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor harga minyak bisa mengubah perhitungan nilai tukar meskipun kebijakan moneter sedang berubah.
Mata uang euro terpapar oleh dua tekanan yaitu inflasi yang didorong minyak dan penurunan daya saing perdagangan akibat kenaikan harga energi. Analisis OCBC menegaskan ketidakpastian lebih besar jika gejolak minyak berlanjut; akibatnya risiko penurunan EURUSD lebih mungkin dibanding reli. Mereka memperkirakan dolar melemah moderat pada 2026 jika risiko regional mereda.
OCBC menilai skenario minyak sedang berlangsung bisa mengangkat EURUSD ke wilayah 1.13-1.12 pada basis tengah tahun jika oil shock moderat berlanjut sekitar mendekati USD 100 per barel. Dalam skenario ini, euro tetap rentan terhadap tekanan impor energi dan lonjakan biaya hidup.
Di sisi lain, jika Brent melonjak ke sekitar USD 140 per barel dan tetap tinggi, EURUSD bisa turun lebih lanjut mendekati 1.10 atau lebih rendah sedikit. Kelompok analis menyoroti bahwa kejadian ini akan menambah tekanan pada neraca eksternal zona euro dan biaya energi bagi banyak pengguna valuta asing.
Mereka tetap netral terhadap EURUSD hingga muncul tanda deeskalasi yang jelas, sambil memperkirakan kelemahan dolar moderat pada 2026 bila risiko regional mereda. Dengan skenario minyak yang tidak terlalu ekstrem, baseline outlook menegaskan bahwa dolar bisa melemah secara bertahap.