Analisa Makro Deutsche Bank menyoroti lonjakan signifikan pada harga emas. Momentum itu dipicu oleh kekhawatiran geopolitik yang meningkat dan memicu aliran dana menuju aset aman. Dalam konteks ini, emas telah melonjak sekitar 8,52 persen dan mendekati level penting di sekitar 5.000 dolar AS per ounce.
Pergeseran sentimen pasar membentuk opini bahwa risiko geopolitik dapat terus menjadi dorongan utama bagi permintaan logam mulia. Para investor melihat emas sebagai pelindung nilai dalam ketidakpastian, sehingga likuiditasnya tetap kuat di tengah volatilitas global. Secara teknikal, pergerakan harga menunjukkan dinamika tren yang relevan bagi trader jangka pendek.
Seiring dengan kemajuan harga, beberapa analis mengidentifikasi resistance di sekitar 5.050 dolar, dengan fokus pada area 5.100 dolar sebagai target. Meskipun volatilitas tinggi, manajemen risiko tetap diperlukan untuk posisi long di emas. Data pasar spot mengindikasikan tren yang kuat meskipun ada koreksi teknikal kecil.
Di sisi lain, dolar AS mengalami tekanan signifikan karena faktor makro dan kebijakan moneter global. Data menunjukkan minggu terburuk dolar dalam delapan bulan terhadap mata uang utama. Pelemahan ini saat ini memperkaya daya tarik emas bagi investor yang mencari perlindungan nilai tukar.
Kondisi ini juga mempengaruhi spread imbal hasil antara aset berbasis dolar dan logam mulia. Investor menimbang portofolio antara obligasi berdenominasi dolar dan komoditas emas. Ketidakpastian geopolitik menambah dinamika pasar, membuat emas tetap menarik meski volatilitas tetap ada.
Dalam pandangan jangka panjang, jika ketegangan geopolitik berlanjut, emas berpotensi menjaga momentum upside meskipun ada tekanan teknikal jangka pendek. Untuk trader, fokus utamanya adalah manajemen risiko dan pemantauan level psikologis di sekitar level 5.000 dolar.