EUR/JPY mencatat pelemahan lanjutan pada sesi Asia, menguatnya Yen memicu tekanan terhadap pasangan mata uang tersebut. Pergerakan ini berlanjut setelah dua sesi penurunan berturut-turut dan diperdagangkan di sekitar level 182,90. Kondisi pasar menegaskan bahwa yen mendapat dukungan dari faktor kebijakan domestik serta dinamika risiko global yang tengah meningkat.
Pergeseran sentimen turut dipicu oleh spekulasi bahwa pemerintah Jepang tidak akan membiarkan pergerakan pasar yang dinilai spekulatif berjalan terlalu jauh. Ketidakpastian mengenai batas tindakan otoritas menambah volatilitas dan menambah beban pada EUR/JPY, terutama jika tekanan di pasar global masih meningkat. Pelaku pasar menimbang sinyal kebijakan dengan fokus pada arah yen terhadap mata uang utama lainnya.
Walau ada tekanan pada euro, dolar AS juga mengalami dinamika yang berujung pada pelemahan luas yang memicu peluang bagi yen untuk memimpin koreksi terhadap beberapa pasangan mata uang utama. Risiko geopolitik dan tekanan perdagangan menambah volatilitas, membuat trader menantikan rilis data PMI Zona Euro untuk menilai kekuatan sektor jasa dan dampaknya terhadap EURJPY ke depan.
Pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyiratkan komitmen pemerintah untuk mengambil tindakan terhadap pergerakan pasar yang dinilai spekulatif. Meski tidak merinci pasar mana yang dimaksud, pernyataan tersebut menambah fokus pada peluang tindakan kebijakan yang dapat memfokuskan pada yen sebagai elemen utama stabilitas internal. Lanskap kebijakan Jepang menjadi panduan bagi aliran dana dan arus perdagangan di pasar mata uang.
Bloomberg melaporkan bahwa pembahasan mengenai intervensi berlanjut setelah yen berbalik tajam pada akhir hari Jumat. Para pedagang menyatakan bahwa Bank New York Fed telah melakukan pemeriksaan suku bunga dengan beberapa bank besar sebagai bagian dari fase evaluasi likuiditas dan tarif pertukaran. Langkah seperti itu secara luas dipandang sebagai sinyal bahwa otoritas mungkin sedang menyiapkan intervensi lanjutan.
Namun otoritas mata uang terdepan Jepang menolak mengomentari apakah pemeriksaan tersebut benar-benar telah dilakukan. Ketidakpastian ini memperkuat pandangan bahwa pasar masih menantikan konfirmasi tindakan dari pemerintah, sehingga volatilitas tetap tinggi dalam beberapa hari mendatang. Ketegangan ini memengaruhi persepsi risiko dan membentuk kerangka untuk pergerakan yen selanjutnya terhadap euro dan mata uang utama lainnya.
Data PMI zona Euro untuk Januari menunjukkan penurunan di sektor jasa, dengan indeks berada di 51,9. Angka tersebut turun dibandingkan pembacaan bulan Desember dan juga di bawah ekspektasi pasar, menambah gambaran bahwa pertumbuhan jasa berada di wilayah yang lebih lemah dari perkiraan. Meskipun sektor jasa melambat, komponen manufaktur membaik meski tetap berada di bawah ambang ekspansi.
Pada saat yang sama, data PMI Jerman menunjukkan bahwa sektor jasa mampu menjaga ekspansi, sementara sektor manufaktur masih belum mencapai fase ekspansi penuh. Pembacaan ini menandakan perbedaan dinamika antara sektor jasa dan manufaktur dalam perekonomian mitra dagang utama kawasan. Para pelaku pasar juga menantikan Indeks Sentimen Bisnis IFO Jerman yang dirilis pada hari ini.
Investors kemungkinan besar akan memantau rilis IFO Jerman sebagai barometer sentimen bisnis dan arah kebijakan moneter di kawasan. Reaksi pasar terhadap hasil IFO dapat mempengaruhi ekspektasi mata uang euro terhadap yen dan mata uang utama lainnya, terutama jika data memperkuat narasi perlambatan pertumbuhan atau meningkatkan prospek pengetatan kebijakan. Data PMI yang berbeda antara jasa dan manufaktur menambah kompleksitas analisis untuk EURJPY ke depan.