EUR/USD menguat kembali setelah pembukaan minggu diawali dengan gap bearish, seiring dolar AS melemah dari level tertinggi intraday. Pergerakan pasangan ini mencatat sekitar 1.1586 pada penulisan laporan, setelah sempat menyentuh rendah harian di sekitar 1.1507 sepanjang sesi Asia. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap euro mereda seiring dolar mereda dan sentimen pasar sedikit membaik.
Indeks DXY, yang mengukur nilai dolar terhadap sekeranjang mata uang utama, diperdagangkan mendekati 99.10, turun dari puncaknya di sekitar 99.70. Penguatan EUR tidak lepas dari dinamika dolar yang melemah, meskipun ada faktor risiko geopolitik yang membayangi sentimen pasar secara keseluruhan. Analisis dari Cetro Trading Insight menekankan bahwa pembalikan ini bisa bersifat teknikal jangka pendek jika dolar lanjut melemah atau berbalik menguat terhadap rilis data utama.
Di sisi lain, sentimen pasar didorong oleh kekhawatiran terkait kebijakan moneter bank-bank sentral terbesar. Perdagangan menilai bahwa ECB mungkin menempuh jalur pengetatan yang lebih jelas, sementara pasar juga mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga Fed. Perkembangan ini tidak dapat dipisahkan dari ketegangan geopolitik dan volatilitas harga minyak yang meningkat, yang berpotensi mempengaruhi prospek inflasi global dan arah kebijakan para bank sentral.
Lonjakan harga minyak belakangan ini meningkatkan kekhawatiran mengenai tekanan inflasi global. Karena Eropa adalah importir energi utama, kenaikan biaya energi berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sekaligus mendorong tekanan inflasi di wilayah tersebut. Hal ini membuat para investor menilai kemungkinan ECB melakukan dua kali kenaikan suku bunga 25 basis poin pada tahun ini, dibandingkan narasi sebelumnya yang lebih longgar hingga 2026.
Di sisi Transatlantik, pasar juga telah menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan Fed. Pelaku pasar menilai risiko inflasi yang masih tinggi dan lonjakan harga minyak akan memperpanjang periode suku bunga berada lebih tinggi untuk lebih lama. Meskipun demikian, beberapa faktor seperti angka inflasi inti yang tetap tinggi dan dinamika pasar tenaga kerja AS tetap menjadi risiko bagi rencana pemangkasan suku bunga di masa mendatang.
Namun, risiko stagflasi juga muncul di AS setelah laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pekan lalu yang kurang kuat, menampilkan hilangnya pekerjaan meskipun tingkat pengangguran sedikit naik. Kondisi ini menempatkan pembuat kebijakan pada posisi sulit, karena mereka perlu menyeimbangkan risiko inflasi dengan tanda-tanda pendinginan pasar tenaga kerja. Pasar akan terus memantau bagaimana data-data inflasi dan pekerjaan mempengaruhi prospek kebijakan dalam beberapa bulan ke depan.
Calender ekonomi AS minggu ini sangat penting karena CPI diperkirakan rilis pada hari Rabu dan PCE Price Index pada hari Jumat. Data tersebut menjadi penentu utama arah pergerakan EURUSD dan persepsi risiko bagi kedua bank sentral besar. Pasar menunggu sinyal apakah tekanan harga bisa melandai atau tetap membandel, yang pada akhirnya akan mengubah jalur kebijakan moneter di Eropa dan Amerika.
Durasi jeda pada kalender ekonomi zona euro relatif ringan, sehingga EURUSD akan sangat sensitif terhadap bagaimana data inflasi AS berkembang. Jika CPI dan PCE menunjukkan tren inflasi yang turun, ekuitas dan risiko pasar bisa menguat kembali. Namun seandainya angka inflasi tetap tinggi, sentimen pasar bisa berbalik lebih berhati-hati dan mendukung sikap hawkish di ECB serta penahanan pada penurunan suku bunga saat ini.
Secara keseluruhan, analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti bahwa volatilitas di pasar FX bisa tetap tinggi karena kombinasi faktor geopolitik, fluktuasi harga minyak, dan rilis data inflasi AS. Pelaku pasar disarankan memonitor pergerakan EURUSD di kisaran 1.15–1.17 sambil menimbang risiko rencana kebijakan ECB dan Fed terhadap data inflasi utama yang akan datang, serta sentimen risiko global secara keseluruhan.}