EURUSD Turun Lebih dari 1% Diduga Dipicu Dolar AS Sebagai Safe-Haven di Tengah Ketegangan Timur Tengah

EURUSD Turun Lebih dari 1% Diduga Dipicu Dolar AS Sebagai Safe-Haven di Tengah Ketegangan Timur Tengah

Signal EUR/USDSELL
Open1.168
TP1.150
SL1.171
trading sekarang

Laporan ini disusun oleh Cetro Trading Insight.

EURUSD turun lebih dari 1% karena investor beralih ke dolar AS yang dianggap pelindung nilai saat ketegangan geopolitik di Timur Tengah meningkat. Pada saat penulisan, pasangan diperdagangkan sekitar 1.1683, mendekati level terendah dalam lebih dari sebulan. Kondisi ini mencerminkan persepsi risiko yang lebih tinggi terhadap pergerakan mata uang euro dalam konteks risiko global yang sedang meningkat.

Permintaan terhadap dolar meningkat seiring pasar menimbang risiko geopolitik, sementara dinamika ini memperkuat USD sebagai aset pelindung. Ketegangan regional memberi tekanan pada euro karena pelaku pasar menilai ketidakpastian terkait umur kebijakan moneter di kawasan euro serta potensi dampak terhadap inflasi domestik di zona euro.

Indeks dolar AS (DXY) berada di sekitar 98.64, tertinggi sejak 22 Januari, menandai dominasi dolar sebagai aset aman dalam lingkungan volatilitas. Sementara itu, pergerakan harga minyak dan perkembangan kebijakan moneter global menjadi faktor penentu arah jangka pendek bagi EURUSD.

Data PMI manufaktur AS untuk bulan Februari menunjukkan dinamika yang berbeda. ISM Manufacturing PMI turun menjadi 52.4 dari 52.6 pada bulan sebelumnya, menandai perlambatan permintaan namun tetap berada di wilayah ekspansi. Indeks tenaga kerja meningkat menjadi 48.8, sementara pesanan baru turun menjadi 55.8, menunjukkan arus masuk pesanan yang masih kuat meski momentum pekerjaan lesu.

Di zona euro, HCOB Manufacturing PMI tetap di 50.8 pada Februari, tidak berubah dari Januari dan berada dalam ekspektasi pasar. Kondisi ini menandakan bahwa aktivitas manufaktur di wilayah euro tetap berada pada batas ekspansi, meskipun momentum global terasa melemah. Perbandingan antara dinamika AS dan zona euro memperlihatkan perbedaan sinyal terkait arah kebijakan moneter masing-masing bank sentral.

Para pejabat pembuat kebijakan di ECB dan Fed tetap berhati-hati. Ada indikasi bahwa kebijakan bisa bergerak dalam arah yang berbeda jika volatilitas harga minyak dan inflasi berubah secara signifikan. Ketidakpastian ini memperkuat volatilitas pasar mata uang dan meningkatkan perhatian terhadap bagaimana faktor energi mempengaruhi kebijakan moneter global.

Geopolitik, Energi, dan Implikasi Kebijakan Moneter

Ketegangan regional meningkat setelah serangan balasan Iran terhadap basis militer AS di kawasan Gulf, yang terjadi setelah serangan yang melibatkan AS dan Israel. Perkembangan ini meningkatkan permintaan terhadap dolar sebagai aset aman dan meningkatkan volatilitas di pasar valuta asing. Risiko eskalasi lebih lanjut menjadi fokus utama para trader karena dampaknya terhadap likuiditas dan aliran modal global.

Rantai pasokan minyak melalui Selat Hormuz tetap menjadi faktor kunci. Potensi gangguan pasokan dapat mendorong harga minyak lebih tinggi, menambah tekanan inflasi global, dan menimbulkan tantangan bagi kebijakan moneter utama. Dampak ini berpotensi memperkuat bias risiko pada aset berisiko seperti EURUSD dalam jangka pendek.

Secara keseluruhan, arah EURUSD diperkirakan tetap bearish dalam jangka pendek seiring dolar menguat dan volatilitas energi tetap tinggi. Investor disarankan memantau pergerakan DXY, dinamika harga minyak, serta pembacaan PMI global untuk menilai perubahan sentimen pasar valas dan keseimbangan kebijakan moneter.

broker terbaik indonesia