Para ekonom Nordea, Ole Haakon Eek-Nielsen dan Jan von Gerich, menegaskan kembali pandangan bahwa Federal Reserve tidak akan melakukan pemotongan suku bunga. Pertumbuhan AS dinilai masih cukup kuat meskipun sisi penawaran tenaga kerja lemah, sehingga pengangguran diperkirakan tetap rendah. Dalam konteks ini, ekspektasi pemotongan tidak hanya tidak diantisipasi, melainkan cenderung tertahan.
Mereka menilai bahwa pelemahan dolar AS, harga komoditas yang lebih tinggi, dan potensi efek tarif membuat inflasi sulit meredam menuju 2%. Proyeksi mereka menunjukkan bahwa kejutan pasar tetap mungkin jika Fed mempertahankan suku bunga lebih lama daripada yang dibayangkan pasar. Secara keseluruhan, jalur inflasi diperkirakan tetap menantang meskipun pertumbuhan ekonomi kuat.
Mengurangi ukuran balance sheet kemungkinan akan memperlebar spread antara SOFR dan Fed Funds serta meningkatkan volatilitas, kecuali ada langkah signifikan lain pada regulasi perbankan. Kenaikan imbal hasil jangka panjang juga diperkirakan akan berlanjut, sebagian didorong oleh tren jual aset AS dan defisit publik yang besar. Selain itu, dinamika demografis yang saat ini didorong oleh peningkatan proporsi penduduk lanjut usia menambah tekanan pada permintaan domestik dan kebijakan fiskal.
Nilai tukar dolar cenderung melemah seiring dengan pandangan bahwa pertumbuhan AS tetap kuat dan permintaan global berubah. Pelemahan USD menciptakan ruang bagi pemulihan harga komoditas dan menambah tantangan bagi upaya disinflasi menuju target 2%. Pasar juga menilai bahwa dinamika arus modal dapat meningkatkan volatilitas di beberapa kelas aset.
Tarif perdagangan dan harga komoditas yang lebih tinggi meningkatkan tekanan inflasi, meskipun inflasi secara umum tidak otomatis melonjak. Defisit fiskal yang besar di negara maju memperberat biaya pendanaan pemerintah dan berpotensi mendorong imbal hasil jangka panjang lebih tinggi. Kondisi demografis yang menua juga membatasi pertumbuhan permintaan domestik secara menyeluruh.
Nordea menilai bahwa tren kenaikan imbal hasil jangka panjang kemungkinan besar berlanjut, didorong oleh defisit fiskal dan dinamika global. Perkembangan ini bisa memperbesar volatilitas pasar jika arus modal asing tetap mendukung pasar. Namun risiko volatilitas bisa dikendalikan jika bank sentral melakukan pemotongan suku bunga jangka pendek secara hati-hati dan ekspektasi inflasi tetap terpenuhi.
Langkah pengurangan neraca bank sentral berpotensi meningkatkan spread antara SOFR dan Fed Funds serta meningkatkan volatilitas pasar. Risiko ini bisa memburuk bila regulasi tidak diimbangi dengan langkah kebijakan lain yang relevan. Ketidakpastian ekstra pada harga imbal hasil menambah tantangan bagi perencanaan investor.
Upaya menyeimbangkan pasar kemungkinan melibatkan pemotongan suku bunga jangka pendek yang memadai untuk menjaga kurva imbal hasil tetap terkendali. Namun ukuran pemotongan harus selaras dengan perkembangan inflasi dan ekspektasi pasar terhadap inflasi. Nordea menekankan bahwa tanpa perubahan signifikan pada ekspektasi inflasi, efek pelebaran neraca akan terbatas.
Secara keseluruhan, jalur inflasi menuju 2% tetap menantang karena faktor-faktor seperti defisit fiskal yang besar dan demografi yang menua. Risiko geopolitik dan dinamika global juga menjadi faktor pembentuk jalur kebijakan. Dalam ringkasnya, evaluasi Nordea menunjukkan perlunya kehati-hatian terhadap ekspektasi inflasi dan kesiapsiagaan kebijakan yang responsif.