
BNY strategists John Velis dan David Tam telah mengubah ekspektasi mereka terkait dua pemangkasan suku bunga Fed tahun ini. Mereka menekankan gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz serta kekuatan tenaga kerja yang tidak seperti yang diharapkan. Akibatnya, proyeksi pelonggaran lebih lanjut semakin rapuh, dan fokus kini bergeser ke stabilitas kebijakan.
Mereka kini melihat Fed menahan kebijakan sepanjang sisa tahun ini dan menunda pelonggaran lebih lanjut hingga 2027, asalkan minyak dan biaya input mulai stabil. Perubahan ini menandai pergeseran dari rencana agresif menjadi pendekatan yang lebih berhati-hati. Kondisi ini menempatkan data inflasi, pasar kerja, dan biaya produksi sebagai penentu langkah berikutnya.
Di balik klaim tersebut, mereka menyatakan bahwa jika pasokan pengiriman dari Teluk Persia pulih lebih cepat, pemangkasan bisa terjadi tidak lama setelah itu. Namun, hingga pertengah 2026, tanda-tanda penurunan ketetapan kebijakan masih minim. Dalam skenario utama, volatilitas harga energi dan dinamika pekerjaan tetap menjadi kunci untuk jalur kebijakan.
Mereka sebelumnya menilai dua potongan suku bunga sebelum akhir tahun, tetapi realitas geopolitik dan data tenaga kerja membuat skenario itu sangat tidak pasti. Ketidakpastian di Hormuz menambah risiko bagi proyeksi inflasi dan yields pasar obligasi, sehingga para analis meninjau ulang garis besar strategi. Analisis teknikal juga menunjukkan volatilitas yang meningkat pada pasar obligasi dan mata uang.
Pendekatan baru mereka menunda pemangkasan hingga 2027 kecuali minyak dan input utama stabil. Langkah ini menandai transisi dari optimisme ke kehati-hatian, dan menambah tekanan pada ekspektasi pasar mengenai jalur suku bunga jangka menengah. Namun, jika jalannya pengiriman minyak pulih lebih awal, sinyal pemangkasan bisa muncul meskipun indikatornya masih rapuh.
Penilaian mereka menunjukkan bahwa hingga Juni, tidak ada sinyal jelas untuk pembalikan arah kebijakan. Meskipun demikian, risiko geopolitik dan inflasi tetap menjadi faktor utama yang dapat membalik skenario.
Dengan Fed yang cenderung menahan kebijakan, tekanan terhadap imbal hasil obligasi dan ekspektasi inflasi bisa tetap tinggi. Perkembangan di pasar energi dan biaya produksi akan mempengaruhi proyeksi jangka panjang suku bunga. Investor perlu menilai risiko geopolitik sebagai bagian utama dari strategi alokasi aset.
Disarankan untuk memperkuat diversifikasi portofolio dan memantau indikator inflasi, pekerjaan, serta dinamika global. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya memotong eksposur berlebih pada aset yang sangat sensitif terhadap fluktuasi energi. Pengelolaan risiko menjadi prioritas utama guna menjaga stabilitas nilai portofolio.
Artikel ini disusun untuk membantu pembaca memahami bagaimana faktor kebijakan moneter mempengaruhi pasar aset. Meskipun kebijakan saat ini terlihat menahan, hasil akhirnya bisa berubah jika kondisi minyak dan tenaga kerja berubah. Artikel ini dibuat oleh Cetro Trading Insight dengan bantuan alat AI dan telah direview editor untuk akurasi.