Pernyataan yang disampaikan Presiden The Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menegaskan bahwa kebijakan moneter AS berada pada posisi tepat untuk menuntun inflasi kembali ke target tanpa membebani pekerjaan. Ia menekankan tidak ada urgensi untuk melanjutkan pemotongan suku bunga karena bank sentral telah bergerak mendekati sikap netral.
Pendekatan saat ini menekankan bahwa langkah kebijakan berikutnya akan dipandu oleh data yang masuk, bukan kalender kebijakan. Dengan demikian, penetapan suku bunga akan menimbang tren inflasi, dinamika pasar tenaga kerja, dan perkembangan ekonomi secara real time.
Dalam gambaran jangka menengah, ia menyinggung bahwa tekanan tarif diperkirakan mereda pada 2026, sementara inflasi inti diproyeksikan bergerak menuju 2% pada 2027. Sementara itu, prospek pekerjaan tetap terjaga meski ada tantangan dari perubahan tarif dan pertumbuhan global.
Analisis Williams menunjukkan bahwa puncak inflasi diperkirakan berada di kisaran 2,75–3% pada paruh pertama tahun ini sebelum melandai ke arah target 2%. Kunci bagi prospek jangka menengah adalah bagaimana data inflasi dan pekerjaan mengarahkan keputusan kebijakan di masa mendatang.
Di sisi pasar, respons relatif menumbuhkan asumsi bahwa kebijakan netral akan mendukung stabilitas. Indeks Dolar AS (DXY) dilaporkan berada di sekitar 98,90, turun sekitar 0,24% pada hari itu, mencerminkan dinamika risiko yang lebih seimbang.
Seiring berjalannya waktu, estimasi pertumbuhan AS untuk 2026 diperkirakan antara 2,5% dan 2,75%, dengan dampak tarif yang diperkirakan berkurang. Keputusan kebijakan akan tetap diselaraskan dengan data ekonomi yang masuk, menjaga keseimbangan antara inflasi dan lapangan kerja.
Pengarahan kebijakan yang menekankan stabilitas harga dan pertumbuhan tenaga kerja memberikan dasar kepastian bagi investor. Kunci utamanya adalah kerangka menuju 2% inflasi yang memberikan ruang bagi pasar untuk menilai peluang alokasi aset tanpa ekspektasi kebijakan yang terlalu agresif.
Pelaku pasar disarankan mengikuti rilis data inflasi dan tenaga kerja berikutnya, karena variasi kecil dalam angka-angka tersebut bisa mengubah ekspektasi suku bunga. Meski dolar terlihat melemah sebagian waktu, volatilitas tetap bisa muncul karena faktor geopolitik dan dinamika global.
Dengan fokus pada target inflasi dan potensi pelonggaran dampak tarif di 2026, investor bisa mempertimbangkan strategi diversifikasi yang sejalan dengan risiko dan imbal hasil. Struktur risiko-keuntungan menjadi relevan, memandang 1:1,5 sebagai kerangka minimum yang wajar untuk peluang jangka menengah.