GBP/USD bergerak sedikit lebih tinggi di tengah likuiditas yang tipis akibat libur Good Friday. Pergerakan harga terlihat terbatas karena banyak pelaku pasar sedang istirahat, sehingga peluang intraday cenderung lebih kecil. Meski ada dukungan ringan dari USD yang relatif melemah, dinamika teknikal tetap berhati-hati pada level kunci di sekitar 1.32.
Indeks DXY berada di sekitar level 100, setelah sempat menyentuh tertinggi 10 bulan di 100.64. GBP/USD berada di sekitar 1.3234 setelah sempat menyentuh rendah empat bulan di 1.3159 pada minggu ini. Pasar menunggu arahan dari rilis ekonomi selanjutnya untuk menilai kekuatan dolar secara lebih luas.
Investor menanti rilis Nonfarm Payrolls (NFP) untuk bulan Maret sebagai pemicu pergerakan utama. Ekspektasi menunjukkan rebound moderat dengan sekitar 60 ribu pekerjaan tambahan dan tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4.4 persen. Namun, dampak data tersebut bisa terbatas jika faktor geopolitik minyak maupun ketegangan global tetap menjadi ancaman bagi arah kebijakan.
Rilis NFP diproyeksikan memperlihatkan perbaikan moderat dalam penyerapan tenaga kerja AS, dengan perkiraan sekitar 60 ribu pekerjaan dan ketahanan tingkat pengangguran di 4.4 persen. Pelaku pasar berharap angka tersebut menimbang dinamika pembayaran upah yang mendukung tebakan suku bunga. Namun, konteks libur dan ketidakpastian global tetap menahan arah pergerakan USD.
Penurunan angka NFP yang lebih lemah dari perkiraan berpotensi melemahkan dolar AS dan memberikan ruang bagi GBP/USD untuk bergerak lebih tinggi, meski kenaikannya tetap terbatas karena risiko geopolitik minyak. Pasar tetap terfragmentasi karena dinamika minyak dan sikap volatilitas investasi jangka pendek. Secara umum, respons terhadap data NFP akan membentuk pandangan terhadap arah kebijakan moneter dalam beberapa bulan ke depan.
Pernyataan para pejabat bank sentral menegaskan kehati-hatian tentang langkah berikutnya. BoE tampak tidak terburu-buru menaikkan suku bunga, dengan Gubernur Andrew Bailey menyoroti perlunya fokus pada pertumbuhan dan pekerjaan selain inflasi. Di pihak Fed, Ketua Jerome Powell menegaskan kebijakan saat ini berada pada posisi yang tepat untuk menunggu dan melihat bagaimana situasi berkembang.
Ketegangan minyak akibat konflik AS-Iran menambah risiko inflasi dan memperumit prospek pertumbuhan global. Gambaran tersebut membuat pergerakan harga minyak tetap menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi aliran perdagangan dan nilai tukar. Pelaku pasar memantau jalur pengiriman lewat Selat Hormuz yang terganggu sebagian besar.
Ketidakpastian ini mengurangi harapan untuk pemangkasan suku bunga lebih lanjut oleh BoE maupun Fed dalam waktu dekat, meski kedua bank sentral menimbang risiko ekonomi. Risiko geopolitik menambah tekanan pada dolar sebagai aset safe-haven, tetapi kekuatan dolar tetap terjaga akibat kebijakan pengetatan di AS. Pasar juga menilai bahwa kebijakan perlu menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan inflasi.
Secara umum, pedagang masih melihat dua kali kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) hingga akhir tahun sambil menilai Fed yang lebih cenderung menahan suku bunga lebih lama. Komunikasi pejabat bank sentral menunjukkan nada hati-hati, tanpa sinyal kenaikan yang agresif. Dengan demikian, rekomendasi strategi perdagangan saat ini cenderung menimbang risiko dan potensi imbal hasil sesuai dinamika data rilis.