Rugi Jumbo 2025: WIKA Fokus Restrukturisasi untuk Pulihkan Kinerja Infrastruktur

Rugi Jumbo 2025: WIKA Fokus Restrukturisasi untuk Pulihkan Kinerja Infrastruktur

trading sekarang

Penutupan buku 2025 menunjukkan Wijaya Karya mencatat rugi bersih sebesar Rp9,75 triliun, melonjak dari kerugian 2024. Meski demikian, perusahaan berhasil meraih kontrak baru senilai Rp17,46 triliun dan mempertahankan total nilai kontrak berjalan di level Rp50,5 triliun. Dari sisi pendapatan, perseroan mencatat Rp20,45 triliun dengan komposisi non-KSO Rp13,33 triliun dan pendapatan KSO Rp7,12 triliun, menunjukkan dinamika operasional yang beragam.

Secara relatif, beban pokok pendapatan menurun sekitar 31 persen menjadi Rp12,19 triliun, yang membantu margin kotor mencapai 8,5 persen meski top line menurun. EBITDA operasional WIKA menjadi positif sebesar Rp426,52 miliar, menandakan adanya peningkatan efisiensi operasional di tengah tantangan pasar. Porsi kontribusi core business infrastruktur, gedung, dan EPCC menjadi faktor utama perbaikan margin tersebut.

Dalam konteks manajemen, WIKA menegaskan fokus pada restrukturisasi keuangan melalui delapan program peningkatan efisiensi. Corporate Secretary Ngatemin menegaskan bahwa langkah penyehatan mencakup perbaikan struktur modal dan percepatan penyelesaian piutang untuk menjaga daya saing dan likuiditas. Upaya ini dinilai sebagai fondasi bagi keunggulan operasional perusahaan di masa mendatang.

Restrukturisasi Keuangan dan Efisiensi Operasional

Nilai piutang bersih turun signifikan menjadi Rp1,89 triliun pada akhir 2025, turun sekitar 29,2 persen dibandingkan penutupan 2024. Program penyehatan keuangan dijalankan secara konsisten melalui delapan inisiatif, dengan tujuan mempercepat arus kas dan memperbaiki struktur modal. Penurunan piutang ini menjadi indikator kinerja operasional yang lebih sehat di tengah tekanan proyek.

Beban keuangan yang dibayarkan sepanjang 2025 tercatat Rp2,97 triliun, turun sekitar 9,4 persen dibandingkan 2024. Penurunan beban bunga membantu menjaga likuiditas meski beberapa beban lain tetap ada. WIKA juga mencatat kerugian dari entitas asosiasi sebesar Rp52,6 miliar dan kerugian dari ventura bersama hingga Rp1,44 triliun.

Dari sisi neraca, kas dan setara kas sebesar Rp2,75 triliun tercatat pada akhir 2025, turun 18 persen dibanding akhir 2024. Total aset perseroan turun 21 persen menjadi Rp50 triliun, mencerminkan tekanan finansial yang tetap ada. Meskipun rugi bersih meningkat menjadi Rp19,29 triliun, ekuitas perseroan masih positif Rp1,68 triliun pada penutupan tahun.

Prospek ke Depan dan Strategi 2026

Menyongsong 2026, WIKA menegaskan komitmen terhadap operation excellence sebagai fondasi untuk menurunkan beban keuangan dari penugasan yang dikerjakan. Perusahaan menekankan pentingnya menjaga keunggulan operasional melalui peningkatan proses, manajemen biaya, dan fokus pada proyek inti infrastruktur serta EPCC. Analisis di Cetro Trading Insight menyoroti pentingnya konsistensi implementasi reformasi biaya dan alokasi sumber daya untuk menjaga likuiditas tetap sehat.

Langkah lanjutan mencakup rencana divestasi aset yang belum memberi laba guna membatasi beban keuangan di masa mendatang. Manajemen juga menegaskan upaya menyelesaikan penugasan berjalan lebih cepat sambil memperkuat likuiditas perusahaan serta menjaga arus kas operasional. Strategi ini dirancang untuk memperbaiki posisi keuangan tanpa mengorbankan kapasitas proyek.

Risiko utama tetap berputar di tingkat proyek infrastruktur, kebijakan pendanaan, dan volatilitas pasar properti. Investor didorong memantau implementasi delapan stream reform, kemajuan penyelesaian piutang, dan kemampuan perseroan menyeimbangkan laba di masa depan. Dengan neraca yang perlahan membaik dan ekuitas positif, prospek jangka menengah masih bergantung pada keberhasilan restrukturisasi dan kelanjutan proyek inti WIKA.

broker terbaik indonesia