Data inflasi AS untuk Februari menunjukkan CPI sebesar 2.4% secara YoY, sesuai ekspektasi, dengan core CPI di 2.5%. Angka tersebut menunjukkan tekanan harga pada barang dan jasa masih relevan meski ada beberapa sinyal perlambatan pada komponen tertentu. Pasar menilai bahwa tekanan inflasi tetap tajam meski level akhirnya tidak melonjak signifikan. Secara umum, data ini memperkuat narasi bahwa volatilitas kebijakan moneter tetap menjadi fokus utama para pelaku pasar.
Dolar AS cenderung menguat ketika inflasi tetap tinggi, tetapi GBPUSD diperdagangkan dekat 1.3399–1.3400 dengan pergerakan yang relatif terbatas. Faktor geopolitik dan dinamika kebijakan moneter antara The Fed dan BoE turut membentuk arah pasangan mata uang utama. Ketidakpastian sekitar langkah-langkah lanjutan menambah jarak antara ekspektasi pelonggaran dan respons pasar terhadap data inflasi.
Ekspektasi pelonggaran kebijakan Fed menyusut menjadi sekitar 30 basis poin, karena tekanan inflasi yang masih membandel. Secara teknikal, pasangan ini cenderung tertahan di bawah konfluensi resistance yang menandai momentum bearish jangka pendek. Pelaku pasar menunggu konfirmasi arah berikutnya dari rilis data dan komentar bank sentral.
Iran memperingatkan bahwa harga minyak bisa melonjak hingga 200 dolar per barel setelah serangan terhadap beberapa kapal, menambah risiko pada stabilitas pasar energi. International Energy Agency juga merekomendasikan rilis cadangan minyak sebanyak 400 juta barel untuk menahan lonjakan harga. Ketegangan tersebut meningkatkan volatilitas di pasar komoditas dan mempengaruhi ekspektasi inflasi global.
Harga minyak yang lebih tinggi menambah beban biaya energi bagi konsumen dan produsen di negara maju, termasuk Inggris. Dalam konteks ini, dinamika pasar energi dapat mempengaruhi kebijakan fiskal maupun arah investasi. Investor tetap memantau konflik regional karena potensi dampaknya terhadap aliran modal dan volatilitas aset risiko.
Gejolak minyak mempengaruhi sentimen umum pasar; GBPUSD menunjukkan respons tipis di sekitar level 1.3400. Kondisi ini mencerminkan keseimbangan antara risiko geopolitik dan upaya pemulihan ekonomi, dengan fokus pada berita energi dan kebijakan moneter yang relevan.
Analisis teknikal menunjukkan GBP/USD berada di bawah konfluensi resistance sekitar 1.3430 hingga 1.3500, sehingga bias jangka pendek cenderung bearish. Grafik harian menunjukkan momentum yang gagal melanjutkan kenaikan di atas level penting, didukung oleh penurunan momentum pada beberapa indikator.
Support terdekat berada di sekitar 1.3360, 1.3330, dan 1.3300; jika ditembus, aura bearish bisa berlanjut. Di sisi atas, rintangan utama berada di 1.3430 dan 1.3500; pergerakan menembus di atas 1.3500 akan mengubah bias dan membuka peluang menuju area 1.36. Konfirmasi close harian di atas level kunci diperlukan untuk mengindikasikan pembalikan tren.
Rencana trading berdasarkan analisa teknikal adalah posisi jual pada level pembukaan sekitar 1.3399 dengan stop loss di 1.3430 dan take profit di 1.3330. Rasio risiko/imbalan diperkirakan sekitar 1:2.2, memenuhi kriteria manajemen risiko. Pelaku pasar juga akan melihat peluang jika harga menembus 1.3300 untuk potensi penurunan lebih lanjut.