GBP/USD tergelincir seiring melemahnya Pound menjelang keputusan suku bunga Bank of England. Pasangan ini diperdagangkan mendekati level 1,3620 saat sesi Asia berlangsung, mencerminkan tekanan pada mata uang Inggris sebelum rilis kebijakan. Pasar tetap menantikan arah kebijakan BoE dan bagaimana komentar para pejabatnya akan membentuk pergerakan selanjutnya.
BoE diprakirakan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Februari, mengikuti konsensus luas di kalangan analis. Pemotongan 25 basis poin pada Desember masih menjadi pembahasan karena dampaknya pada fundamental jangka menengah, meski dampaknya dinilai terbatas terhadap prospek jangka panjang. Perdagangan GBP/USD cenderung sensitif terhadap tanda-tanda perubahan kebijakan dan pergeseran ekspektasi pasar.
Di saat itu, dolar AS menunjukkan kekuatan relatif karena peluang perlambatan laju pemotongan AS dan kekecewaan pada potensi perubahan kebijakan global. Spekulasi mengenai kandidat ketua Fed juga menambah volatilitas pasar, karena investor mencoba menilai arah neraca dan pendekatan kebijakan ke depan. Secara keseluruhan, faktor-faktor ini menambah tekanan pada GBP/USD sebelum keputusan BoE.
Dinamika dolar AS tetap menguat karena ekspektasi bahwa laju pemotongan Fed akan melambat atau berhenti lebih lama. Sinyal tersebut membuat USD lebih menarik secara real-time versus pasangan mata uang utama, terutama saat pasar memantau pernyataan pejabat bank sentral AS. Dalam konteks ini, GBP/USD cenderung melemah karena pergeseran imbal hasil global.
Potensi terpilihnya Kevin Warsh sebagai ketua Fed menambah fokus pada arah kebijakan dan ukuran neraca. Banyak analis menganggap Warsh akan mendorong pendekatan yang lebih ketat terhadap pemotongan dan mengurangi pelonggaran besar di masa depan. Ketidakpastian mengenai kebijakan Fed menguatkan tenaga dolar dibandingkan valuta lainnya.
Komentar publik mengenai suku bunga, proyeksi ekonomi, dan dinamika neraca menambah volatilitas pasar. Investor menilai risiko bahwa kebijakan Fed akan berjalan lebih konservatif dibandingkan proyeksi sebelumnya. Akibatnya, tekanan pada GBP/USD meningkat menjelang data utama dan perkembangan tambahan dari sektor moneter Amerika.
Data ADP Januari menunjukkan payroll swasta naik hanya 22 ribu, jauh di bawah ekspektasi. Angka ini menambah ketidakpastian mengenai tempo pemulihan tenaga kerja AS dan bagaimana data resmi akan mempengaruhi langkah kebijakan bank sentral. Para pelaku pasar menilai risiko revisi kebijakan jika data resmi selanjutnya turun.
PMI Layanan ISM Januari berada di 53,8, di atas perkiraan 53,5 dan menandakan ekspansi yang stabil. Angka ini memberikan sinyal bahwa sektor jasa tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan meskipun tekanan kebijakan tetap ada. Market participants mengevaluasi implikasinya terhadap timeline pemotongan Fed dan risiko bagi mata uang global.
Gabungan indikator tenaga kerja dan layanan memperkuat narasi bahwa kebijakan moneter AS akan bergerak secara terukur, sementara mata uang lain seperti GBP menghadapi tekanan lebih lanjut. Investor tetap waspada terhadap perubahan komentar pejabat bank sentral dan pernyataan kebijakan yang dapat menggeser arah pasangan GBP/USD. Dalam situasi ini, level teknikal kunci tetap menjadi fokus untuk menentukan arah jangka pendek.