
GBPUSD kembali melemah untuk hari ketiga berturut-turut di tengah gejolak politik di Inggris dan kekuatan dolar AS. Pasangan mata uang ini terpukul saat imbal hasil gilts naik ke level tertinggi multi-dekade, mencerminkan kekhawatiran atas stabilitas fiskal dan kepemimpinan Labour. Banyak pelaku pasar menaruh fokus pada arah kebijakan fiskal dan suku bunga yang mungkin diambil bank sentral di masa mendatang. Pada bagian ini, Cetro Trading Insight menyajikan gambaran umum pasar.
Dolar AS menguat terhadap sebagian besar mata uang utama, didorong oleh ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan tetap menjaga kebijakan ketat. Indeks DXY berada di atas level 98.7, menunjukkan daya beli dolar terhadap koridor utama. Hal ini menambah tekanan pada GBPUSD dan membatasi pergerakan Pound.
Dari sisi teknikal, GBPUSD diperdagangkan sekitar 1.3482 saat berita ini ditulis, turun sekitar 0.30 persen. Pasangan ini cenderung menunjukkan bias turun dalam jangka pendek karena kombinasi risiko politik di Inggris dan permintaan terhadap dolar. Analis menilai arah pasar masih rapuh menjelang pernyataan kebijakan BoE dan rilis data ekonomi terbaru.
Ketidakpastian politik di Inggris menambah tekanan pada pasar obligasi negara, dengan imbal hasil gilt jangka panjang meroket ke level tertinggi multi-dekade. Kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan potensi persaingan kepemimpinan Labour mendorong investor menjauhi aset berisiko dan beralih ke surat utang negara. Proyeksi defisit yang lebih besar jika krisis politik berlanjut memicu penilaian ulang terhadap biaya pinjaman Inggris.
Health Secretary Wes Streeting mengundurkan diri dari pemerintahan, memicu spekulasi mengenai arah kepemimpinan Labour. Meski PM Starmer menolak mundur dan menyebut proyek ini sebagai upaya jangka panjang, dinamika ini meningkatkan volatilitas pasar. Banyak pelaku pasar melihat Streeting sebagai figur yang lebih pro-kebijakan fiskal meskipun situasinya terus berkembang.
Di sisi GBPUSD, ketidakpastian politik dapat menjaga tekanan turun pada pasangan, meskipun ada tanda bahwa kebijakan fiskal yang lebih ramah mungkin akan muncul di masa depan. Faktor-faktor teknikal juga menunjukkan peluang pergerakan ke bawah jika dolar tetap kuat. Risikonya tetap seimbang dengan tantangan mengendalikan inflasi dan prospek dua kali kenaikan BoE menjelang akhir tahun.
Di ruang dolar, DXY menguat karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan yang ketat. Dolar juga didorong oleh tekanan inflasi global dan ketahanan pasar energi. Pasar menilai peluang adanya kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun sehingga menambah dukungan bagi dolar.
Data ritel AS April menunjukkan kenaikan 0.5 persen secara bulanan, sejalan dengan ekspektasi pasar namun melambat dibandingkan bulan Maret yang kuat. Kontrol grup penjualan ritel, yang menjadi input utama perhitungan PDB, juga naik 0.5 persen pada April setelah peningkatan 0.8 persen sebelumnya. Momentum belanja konsumen yang lebih lambat menambah risiko bagi pelonggaran kebijakan di masa mendatang.
Selain itu, gejolak geopolitik global dan dinamika harga energi menjaga risiko tetap tinggi bagi prospek kebijakan moneter. Banyak analis menilai bahwa pembatasan inflasi akan mendorong The Fed untuk tetap berada pada jalur kenaikan suku bunga setidaknya hingga akhir tahun. Dalam konteks ini, pasar menilai peluang peningkatan imbal hasil obligasi Amerika sambil menilai arah pergerakan mata uang utama terhadap dolar.