Disusun oleh Cetro Trading Insight. Berikut ulasan mengenai pertumbuhan ekonomi Indonesia berdasarkan data PDB Q4-2025 dan implikasinya terhadap kebijakan, serta dinamika pasar valuta asing.
Data resmi menunjukkan PDB Indonesia pada kuartal keempat 2025 tumbuh 5.4 persen secara tahunan, menjadi yang tercepat sejak 2022. Pertumbuhan didorong oleh permintaan domestik yang kuat serta peningkatan konsumsi rumah tangga. Hasil ini menambah optimisme terhadap arah perekonomian nasional sepanjang tahun 2025.
Bank Standard Chartered mempertahankan proyeksi pertumbuhan 2026 di level 5.2 persen. Mereka menilai dorongan fiskal yang lebih kuat dan investasi pemerintah pada sektor prioritas akan mendorong laju ekonomi ke depan. Namun ada peringatan mengenai pertumbuhan yang tidak merata karena investasi swasta yang cenderung berhati-hati serta permintaan ekspor yang lebih lemah.
Permintaan domestik dan kebijakan fiskal masih menjadi pendorong utama. Investasi di sektor mineral processing, energi, pangan, serta belanja militer diperkirakan menopang momentum pertumbuhan di masa mendatang. Meski kebijakan moneter masih longgar, inflasi terkendali dan pemulihan tenaga kerja cukup moderat dapat mendukung konsumsi rumah tangga, risiko kebijakan yang tidak pasti bisa membuat investasi privat berjalan tidak seragam. Eksportir menghadapi perlambatan permintaan eksternal, dan pemerintah berencana memangkas produksi beberapa mineral utama untuk menyeimbangkan pasokan global. Di sisi lain, pelemahan IDR berpotensi meningkatkan daya saing ekspor non-komoditas Indonesia meski volatilitas mata uang tetap menjadi risiko arus modal.
Permintaan domestik tetap menjadi ujung tombak pertumbuhan Indonesia, didukung dukungan fiskal dan kebijakan yang berjalan untuk mendorong investasi publik. Data Q4-2025 menegaskan peran konsumsi rumah tangga dan belanja pemerintah dalam menjaga momentum ekonomi. Analis menilai kombinasi stimulus fiskal dan kebijakan moneter yang longgar telah memberi ruang bagi konsumsi rumah tangga untuk tumbuh meski tantangan eksternal masih ada.
Di sisi kebijakan, suku bunga rendah dan inflasi terkendali memperkuat daya beli konsumen. Pemulihan pasar tenaga kerja juga berkontribusi pada peningkatan kepercayaan rumah tangga. Meski demikian, ketidakpastian kebijakan membuat pelaku bisnis cenderung menahan investasi privat dan menilai lingkungan ekonomi sebagai tidak sepenuhnya pasti.
Ekspor menghadapi perlambatan permintaan global, sehingga kontribusinya terhadap pertumbuhan bisa menurun pada kuartal-kuartal mendatang. Pemerintah menargetkan pengurangan produksi mineral utama untuk menyeimbangkan pasokan global, yang berdampak pada dinamika perdagangan luar negeri Indonesia. Namun, melemahnya IDR bisa meningkatkan daya saing ekspor non-komoditas, meskipun volatilitas mata uang tetap menjadi risiko bagi arus modal dan pembiayaan proyek.
Pandangan terhadap ekspor Indonesia pada 2026 kemungkinan dipukul oleh lambatnya permintaan global. Risiko eksternal mencakup volatilitas pasar komoditas dan perlambatan ekonomi mitra dagang utama. Di dalam negeri, kebijakan fiskal dan investasi publik tetap menjadi penyangga utama untuk menahan dampak eksternal terhadap aktivitas ekonomi.
Nilai tukar IDR menjadi fokus pengamatan karena dinamika kebijakan fiskal, inflasi, dan perdagangan luar negeri. Jika IDR melemah, daya saing produk lokal bisa meningkat, tetapi biaya impor juga bisa naik sehingga beban bagi pelaku usaha ikut meningkat. Karena itu, keseimbangan antara stimulus fiskal dan kejelasan kebijakan menjadi kunci agar investasi swasta tidak melambat.
Secara umum, laporan ini tidak memberikan sinyal trading eksplisit untuk instrumen tertentu karena gambaran makro tetap sangat bergantung pada faktor eksternal. Oleh karena itu sinyal perdagangan diset tetap 'no' dan levelnya null. Pelaku pasar disarankan menunggu konfirmasi arah kebijakan dan pola arus modal sebelum mengambil posisi.