
Goldman Sachs secara tegas menaikkan proyeksi harga tembaga untuk akhir 2026 menjadi USD 13.706 per ton dan 2027 menjadi USD 13.800 per ton, sinyal tajam bahwa pasar logam dasar berada di jalur defisit pasokan. Revisi ini menegaskan pandangan bahwa permintaan non-AS tetap kuat meski produksi tambang global melambat. Artikel ini disusun oleh Cetro Trading Insight untuk membantu pembaca memahami arah pasar tembaga secara jelas dan terukur.
Faktor pendorong utama adalah pengetatan pasar luar AS akibat dampak dari pertumbuhan produksi tambang yang lebih lemah serta lonjakan impor AS. Goldman menilai bahwa defisit pasokan non-AS akan meluas lebih dari ekspektasi sebelumnya, sehingga tekanan ke atas pada harga tembaga meningkat. Sementara itu, permintaan tembaga di AS diperkirakan tetap kuat sehingga pasokan global terserap ke pasar domestik.
Proyeksi tambahan menyebut persediaan tembaga di AS diperkirakan naik sekitar 900.000 ton tahun ini, mengungguli proyeksi sebelumnya sebesar 550.000 ton. Skenario dasar Goldman mengasumsikan tidak ada tarif impor tembaga AS pada 2026. LME Three Month Copper menanjak beberapa hari terakhir sekitar 0,5% menjadi 13.706 per ton di awal Juni 2026.
Produksi gabungan dari tambang Grasberg di Indonesia dan Kamoa-Kakula di Republik Demokratik Kongo diperkirakan turun sekitar 200.000 ton dari proyeksi sebelumnya, mempersempit supply global. Kondisi ini menambah tekanan pada harga dan memperpanjang waktu pemulihan kapasitas penuh untuk tambang-tambang utama.
Defisit pasokan non-AS diperkirakan menjadi lebih besar dari ekspektasi, sementara impor AS cenderung meningkat. Pada sisi permintaan, konsumsi industri tembaga di luar AS tetap menjadi penopang utama harga karena pekerjaan pemulihan industri global yang berlangsung secara bertahap.
Sementara itu, Goldman menilai bahwa asumsi tanpa tarif impor untuk 2026 menambah kompleksitas proyeksi. Jika tarif diberlakukan, risiko ke atas harga menjadi lebih besar, melampaui 14.000 per ton pada paruh kedua 2026; jika tarif dihapus, tekanan pasokan global dapat menekan harga ke bawah sekitar 12.800 per ton pada 2027.
Penutupan panjang Selat Hormuz dapat berpotensi menekan harga tembaga hingga sekitar 12.600 per ton pada akhir 2026, menambah elemen volatilitas di pasar logam dasar. Risiko ini berasal dari geografi energi global yang dapat memengaruhi arus perdagangan logam base.
Di sisi lainnya, implementasi tarif impor tembaga AS memiliki risiko menaikkan harga tembaga ke atas 14.000 per ton pada paruh kedua 2026, karena biaya aliran perdagangan yang lebih tinggi dan gangguan pasokan relatif singkat.
Jika kebijakan menghapus tarif benar-benar terjadi, tekanan pasokan akan berkurang dan harga bisa melemah menuju 12.800 per ton pada 2027. Goldman juga menekankan bahwa produksi utama Grasberg dan Kamoa-Kakula kemungkinan belum kembali ke kapasitas penuh sebelum 2028, menambah risiko pada proyeksi jangka menengah. Harga acuan LME 3 bulan tercatat sekitar 13.706 per ton pada awal Juni 2026.