Pasar aluminium diperkirakan tetap berada di level tinggi dalam beberapa bulan mendatang, didorong oleh ketidakpastian pasokan global. Dalam laporan OCBC Group Research, analis Jonathan Ng menyoroti bahwa kekhawatiran terhadap gangguan rantai pasok menjadi pendorong utama pergerakan harga. Cetro Trading Insight menilai dinamika ini relevan bagi industri karena aluminium adalah komoditas yang sangat sensitif terhadap perubahan aliran logistik.
Kabar utama datang dari Selat Hormuz, pintu gerbang utama bagi aliran energi dan bahan baku seperti pupuk serta aluminium. Ng menekankan bahwa gangguan berkepanjangan di jalur ini dapat memicu lonjakan biaya dan memperlambat pasokan ke pasar global. Analisis kami sejalan dengan laporan The Wall Street Journal, yang menyebutkan bahwa ketidakpastian di wilayah tersebut bisa membentuk ulang keseimbangan pasokan logam.
OCBC memperkirakan harga aluminium bisa mencapai sekitar 3.500 dolar AS per ton pada kuartal kedua 2026, meskipun kontrak tiga bulan di London Metal Exchange turun menjadi sekitar 3.361 dolar per ton akhir pekan ini. Penurunan jangka pendek di LME tidak menghapus pandangan bahwa sentimen bullish tetap ada karena risiko pasokan. Pasar tetap memantau dinamika geopolitik untuk melihat apakah tekanan pada harga bisa bertahan dalam jangka menengah.
Analis Nanhua Futures menekankan bahwa risiko pasokan masih membayangi para produsen aluminium di Timur Tengah, memicu volatilitas harga yang lebih tinggi. Mereka menilai bahwa blokade di Selat Hormuz berpotensi memperlambat pengiriman bahan baku utama ke fasilitas peleburan. Kondisi ini memperkuat gambaran bahwa gangguan pasokan bisa berlanjut meski ada upaya pemulihan produksi di beberapa wilayah.
Iran sebelumnya memangkas produksi aluminium, namun belum menutup sepenuhnya fasilitas elektrolisis dan kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Pemulihan ini masih terganjal oleh dinamika kebijakan dan sanksi, sehingga timing pemulihan bisa berbeda-beda. Meski ada tanda perbaikan, dampaknya terhadap pasar aluminium tetap bergantung pada perkembangan di Timur Tengah dan prospek suplai global.
Uni Emirat Arab menjadi wilayah penting untuk dicermati karena keterbatasan jalur pengiriman alternatif bisa memaksa produsen melakukan pemangkasan output. Ketidakpastian jalur logistik di wilayah tersebut berdampak langsung pada biaya transportasi dan pasokan ke pasar global. Analisis kami menunjukkan bahwa tekanan pasokan di Timur Tengah bisa meningkatkan tekanan harga aluminium secara keseluruhan.
Bagi produsen peleburan dan pihak pengguna industri, lonjakan biaya input berpotensi menekan margin dan memperlambat ekspansi kapasitas. Kondisi ini menuntut manajemen biaya yang lebih agresif,yakni diversifikasi pemasok dan opsi hedging yang lebih canggih. Cetro Trading Insight menekankan pentingnya menjaga transparansi rantai pasokan untuk menghadapi fluktuasi harga.
Pelaku pasar juga perlu memperhatikan strategi hedging dan evaluasi rantai pasokan untuk mengurangi risiko. Investor perlu mempertimbangkan eksposur ke logam industri sebagai bagian dari diversifikasi portofolio mereka. Dengan demikian, pengambilan keputusan harus didasarkan pada analisis fundamental jangka menengah terkait gejolak geopolitik dan dinamika pasokan.
Cetro Trading Insight akan terus mengikuti perkembangan di Selat Hormuz, perubahan kebijakan, serta data perdagangan LME untuk memberikan pembaruan analitis kepada pembaca. Kami akan menyajikan wawasan yang dapat membantu pelaku pasar menavigasi risiko dan peluang di pasar aluminium. Nantikan laporan lanjutan dari Cetro Trading Insight untuk memahami bagaimana sinyal geopolitik mengubah harga logam ini.