Harga Batubara Turun ke USD115/Ton: Dampak Kebijakan AS, Revisi Impor China, dan Ketidakpastian Pasokan Global

Harga Batubara Turun ke USD115/Ton: Dampak Kebijakan AS, Revisi Impor China, dan Ketidakpastian Pasokan Global

trading sekarang

Harga batu bara anjlok mendekati level psikologis USD115 per ton, menyentuh titik terendah dalam hampir dua pekan dan mengejutkan pasar energi. Pergerakan ini mencerminkan dinamika permintaan dan pasokan global yang sedang berubah-ubah, dipicu oleh kebijakan energi di sejumlah negara besar. Investor kini menimbang risiko geopolitik dan kebijakan industri yang dapat mempengaruhi arah harga dalam beberapa pekan ke depan.

Data dari Trading Economics menunjukkan bahwa penurunan harga dipicu oleh laporan bahwa pemerintahan AS berencana meningkatkan produksi batubara domestik dan memperbesar ketergantungan pada pembangkit listrik berbasis batu bara. Rencana Departemen Pertahanan untuk membeli listrik dari pembangkit batubara guna mendukung operasi militer menambah dorongan pada harga jangka pendek. Selain itu, pemerintah mengalokasikan sekitar USD175 juta untuk meningkatkan fasilitas di enam pembangkit.

Sementara itu, perubahan dinamika permintaan juga terlihat dari China. China Coal Transportation and Distribution Association memangkas proyeksi impor batubara 2026 menjadi 465 juta ton dari 480 juta ton, dengan produksi domestik diperkirakan mencapai 4,86 miliar ton tahun ini, naik dari 4,8 miliar ton tahun lalu. Revisi proyeksi ini menambah ketidakpastian pasokan global dan bisa mempertahankan tekanan pada harga batu bara.

Kebijakan yang diduga diambil AS menambah peluang bagi batubara untuk tetap menjadi sumber energi utama pembangkit listrik. Rencana pembelian listrik oleh Departemen Pertahanan dan dukungan finansial untuk fasilitas batubara mencerminkan prioritas energi fosil meski ada tekanan regulasi lingkungan. Dampak kebijakan ini berpotensi menguatkan harga batubara dalam jangka pendek.

Di China, revisi proyeksi impor batubara 2026 yang lebih rendah menandai penyesuaian permintaan luar negeri terhadap saat ini. Namun, produksi domestik China diperkirakan naik menjadi sekitar 4,86 miliar ton, menunjukkan bahwa ketersediaan dalam negeri tetap kuat meski ada perubahan arah impor. Sinyal ini menimbulkan pertimbangan bagi para pelaku pasar mengenai arah harga komoditas di Asia.

Indonesia mengambil langkah membatasi pengiriman batubara termal untuk menstabilkan harga domestik, menambah ketidakpastian pada dinamika pasokan global. Kebijakan ini menyoroti bagaimana negara net ekspor utama bisa mempengaruhi arus ekspor global dan menyebabkan volatilitas lebih lanjut pada pasar komoditas energi.

Penempatan harga yang lebih rendah dan perubahan kebijakan di AS, China, dan Indonesia mencerminkan lanskap pasar energi yang sedang berubah. Bagi pelaku pasar, memantau rencana pembelian listrik, impor batubara, serta respons kebijakan domestik adalah kunci untuk menilai peluang dan risiko di masa mendatang. Cetro Trading Insight menilai bahwa volatilitas harga batubara kemungkinan tetap tinggi dalam beberapa kuartal mendatang.

Analisis teknikal maupun fundamental menunjukkan bahwa sinyal trading yang jelas masih bergantung pada bagaimana produsen dan importir menyesuaikan kapasitas produksi serta bagaimana kebijakan lingkungan berkembang. Investor disarankan untuk memperhatikan level dukungan dan risiko geopolitik yang bisa memicu pergerakan signifikan pada aset terkait energi.

Para pembaca Cetro Trading Insight dapat mengikuti pembaruan kami untuk mendapatkan telaah lebih lanjut mengenai arah harga batubara dan rekomendasi portofolio berlandaskan kebijakan global. Kami berkomitmen menyajikan analisa terukur dan praktis untuk membantu pengambilan keputusan investasi di pasar komoditas.

broker terbaik indonesia