Harga minyak sawit mentah kembali tergelincir pada perdagangan Senin 23 Februari 2026, menandai dua hari beruntun pelemahan. Pergerakan ini dipicu oleh koreksi harga minyak nabati global serta penyesuaian spread terhadap minyak kedelai di Chicago pada sesi sebelumnya. Dalam ulasan di Cetro Trading Insight, kontrak acuan Mei untuk minyak sawit turun 0,44 persen menjadi 4.072 ringgit per metrik ton pada pukul 14.45 WIB.
Seorang trader berbasis di Kuala Lumpur menjelaskan bahwa futures sawit melemah karena penyesuaian spread terhadap minyak kedelai Chicago. Penilaian ini menyoroti bagaimana perubahan hubungan harga antar komoditas nabati dapat mempengaruhi arah pasar. Cetro Trading Insight menekankan bahwa dinamika spreads cenderung menekan ruang kenaikan jangka pendek untuk CPO.
Potensi kenaikan terlihat terbatas karena penguatan ringgit. Mata uang Malaysia tersebut menguat 0,28 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat minyak sawit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade naik 0,62 persen setelah sebelumnya merosot 1,31 persen, dan Dalian Commodity Exchange ditutup karena libur Tahun Baru Imlek.
Ringgit menjadi faktor penentu kebijakan harga minyak sawit. Penguatan mata uang ini menambah beban biaya produksi dan menekan daya tarik CPO bagi pembeli yang membayar dalam USD atau mata uang utama lainnya. Analisis di Cetro Trading Insight menempatkan faktor kurs sebagai kunci dalam prospek harga jangka pendek hingga menengah.
Harga minyak mentah secara global melemah sekitar 1 persen seiring AS dan Iran menuju putaran ketiga negosiasi nuklir. Kabar tersebut meredakan kekhawatiran gejolak pasokan minyak, namun menambah volatilitas bagi pasar komoditas nabati. Perkembangan ekspor Malaysia juga menjadi sorotan karena periode 1-20 Februari diperkirakan turun antara 8,9 persen hingga 12,6 persen menurut data lembaga survei Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia untuk periode 1-20 Februari diperkirakan turun antara 8,9 persen hingga 12,6 persen menurut data lembaga survei Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia. Proyeksi ini menambah tekanan pada harga sawit jika permintaan global tidak pulih dengan cepat. Di sisi lain, pelemahan harga minyak mentah dapat menjaga daya saing CPO sebagai bahan bakar nabati meski margin tetap tipis bagi produsen biodiesel.