Perdagangan saham AS dibuka variatif pada pagi sesi perdagangan kemarin, mencerminkan campuran sentimen di tengah laporan inflasi yang dinantikan investor dan kabar kebijakan energi global. Analisis dari Cetro Trading Insight menyoroti bagaimana data inflasi dan ekspektasi kebijakan mempengaruhi keputusan investor ritel maupun institusional.
Laporan inflasi terbaru dan keputusan IEA untuk melepaskan cadangan minyak secara besar membuat pasar menimbang risiko harga energi. Total pelepasan mencapai 400 juta barel dari cadangan strategis yang disetujui oleh 32 negara anggota. AS dan Jepang diperkirakan menjadi kontributor terbesar dalam langkah ini, sedangkan pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan terganggu sementara karena ketegangan di wilayah tersebut.
Analisa para analis menunjukkan bahwa volatilitas harga minyak menjadi faktor dominan yang membentuk pergerakan pasar utama. Banyak investor menilai lonjakan harga energi bisa memperumit kebijakan moneter bank sentral dan mempengaruhi prospek pemangkasan suku bunga. Beberapa lembaga menilai perubahan jalur kebijakan moneter menjadi sangat sensitif terhadap perkembangan harga energi.
Dari sisi kinerja, indeks Dow Jones Industrial Average turun 212,58 poin menjadi 47.493,93 pada pukul 10.20 waktu New York, sementara S&P 500 naik tipis 0,10 persen ke 6.788,53 dan Nasdaq Composite menguat 108,60 poin menjadi 22.805,71.
Sektor energi memimpin rebound dengan kenaikan 1,2 persen, sementara sektor consumer staples melemah sekitar 1,4 persen. Saham teknologi juga mendapat dorongan setelah Oracle memperkirakan lonjakan permintaan pusat data untuk kecerdasan buatan hingga 2027.
Kondisi ini menambah tontonan atas aliran minyak melalui Hormuz serta dinamika data tenaga kerja AS. Pelaku pasar menilai data ketenagakerjaan yang membentuk ekspektasi pemulihan ekonomi akan menjadi faktor kunci dalam keputusan kebijakan bank sentral. Oracle dan perusahaan teknologi lainnya memberikan sinyal pertumbuhan permintaan terkait solusi AI.