Dalam langkah yang cukup mengejutkan pasar, PT Menteng Heritage Realty Tbk (HRME) melalui anak usaha PT Wijaya Wisesa Bakti telah melunasi fasilitas kredit KB Bank senilai Rp18 miliar dengan dana kas internal grup. Pelaksanaan pelunasan ini mencerminkan kemampuan perusahaan menjaga arus kas meski di tengah dinamika industri properti dan perhotelan. Langkah tersebut menjadi sinyal penting terkait kelancaran operasional serta kesiapan manajemen dalam menghadapi tekanan likuiditas.
Pelunasan tersebut sejalan dengan rencana perusahaan jangka pendek yang menekankan quick win dan penerapan good corporate governance berbasis manajemen risiko. Corporate Secretary HRME, Lira Christina Ratulangi, menegaskan bahwa langkah ini memperkuat fondasi tata kelola dan memperkecil beban utang jangka pendek. Secara struktural, langkah ini juga mematuhi komitmen perusahaan untuk menjaga profil risiko yang lebih sehat.
Dengan langkah ini, manajemen menilai bahwa kinerja keuangan perseroan akan membaik dan menuju arah perbaikan yang signifikan. HRME menegaskan bahwa fokus strategis ke depan adalah memperbaiki efisiensi operasional serta menjaga likuiditas untuk mendukung ekspansi melalui kemitraan dengan agen perjalanan daring (OTA). Selain itu, perseroan menegaskan kontribusi OTA terhadap pendapatan Pomelotel, terutama untuk segmen budget, akan terus ditingkatkan melalui inisiatif kemitraan yang lebih agresif.
Corporate Secretary Lira Christina Ratulangi menegaskan bahwa informasi pelunasan utang tidak memberi dampak material pada kondisi keuangan maupun kelangsungan usaha perseroan. Hal ini disebut sebagai bagian dari praktik manajemen risiko yang prudent, menempatkan fokus pada stabilitas arus kas dan kepatuhan terhadap aturan pasar modal. Dalam konteks transparansi, langkah ini disampaikan melalui keterbukaan informasi BEI.
Lebih lanjut, perseroan menyatakan bahwa kinerja keuangan akan lebih kokoh seiring dengan rencana kerja sama dengan OTA yang lebih luas. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan kamar Pomelotel, terutama dari segmen budget, tanpa menambah beban utang jangka pendek. Secara tata kelola, perusahaan menegaskan komitmen untuk mengefektifkan risiko operasional melalui pengelolaan kas yang lebih ketat.
Ekosistem perseroan di masa mendatang akan lebih fokus pada peningkatan efisiensi, pelaksanaan corporate plan, dan penguatan dasar risiko. Pihak manajemen menyampaikan bahwa kebijakan keuangan dan tata kelola yang lebih baik akan beriringan dengan upaya ekspansi melalui kemitraan OTA, serta pengawasan internal yang lebih ketat guna menjaga kestabilan bisnis di sektor properti dan perhotelan.
Di bawah naungan Pomelotel sebagai brand utama, HRME berencana memperkuat kemitraan dengan OTA untuk memacu okupansi kamar dan pendapatan, terutama pada segmen budget. Strategi ini fokus pada peningkatan visibilitas dan akses pemesanan yang lebih luas, sambil memastikan kualitas layanan tetap terjaga. Dalam konteks manajemen risiko dan respons pasar, langkah ini diklaim dapat mempercepat pemulihan pendapatan dari lini hotel.
Harga saham HRME tercatat ditutup pada Rp45,00 pada perdagangan kemarin, turun sekitar 8,16 persen. Pergerakan harga ini mencerminkan respons pasar terhadap berita likuiditas jangka pendek dan fokus transformasi bisnis. Meski demikian, paparan masa depan dari kerja sama OTA memberikan peluang bagi prospek pendapatan Pomelotel jika strategi ini berjalan mulus dan didukung tata kelola yang lebih kuat.
Seberapa besar dampaknya terhadap valuasi dan dinamika saham akan bergantung pada seberapa efektif ekspansi OTA, kemampuan Pomelotel menjaga margin hotel kelas budget, serta perkembangan industri perhotelan di Indonesia. Laporan ini disediakan untuk pembaca Cetro Trading Insight sebagai analisis awal, dengan pemahaman bahwa keputusan investasi sepenuhnya berada pada pihak investor dan tidak merupakan rekomendasi.